Jan 13 2009

Tiga Penjara Negeri Bahari

Published by sianok under Bahari

Sedikit dari kita yang tahu setiap tanggal 15 Januari adalah hari Dharma Samudra, hanya sedikit yang mengetahui 6,7 juta ton ikan dihasilkan dan ditangkapan dari wilayah laut Indonesia pertahun. Hanya sedikit dari kita yang memahami bagaimana memanfaatkan luas wilayah laut Indonesia yang mencapai 5,8 juta kilometer persegi untuk kesejahteraan bangsa dan negara ini.

Sedikit dari kita yang tahu bahwa Ir. Djoeanda PM (Perdana Menteri) terakhir pada masa sistim perlementer yang berasal dari non – partai, yang berhasil mendeklarasikan bahwa Indonesia ini adalah negara kepulauan (archipelagic state) tetapnya 13 Desember 1957 dan disahkan oleh PBB pada1982 yang ditanda tangani oleh 117 negara.

Sedikit dari kita yang tahu delapan puluh persen dari kapal 7.000 kapal perikanan di laut nusantara, dimiliki asing. Sedikit dari kita yang tahu dan mau bersusah payah untuk mengetahui data bahwa 150 kapal perang TNI AL 1/3 masih dalam perawatan. Juga hanya empat puluh persen kapal layak pakai (Kompas, 5/10/08).

Character Bangsa

Memakai pendekatan historis bila sedang mengkaji masalah character bangsa, akan menyajikan alam kesadaran, dan akhir-akhrnya menciptakan kearifan (wisdom) dalam menatap keadaan ini. Berawal dari hipotesis, belum bisa kita terbebas seratus persen dalam konteks ini, dari negeri Belanda dalam melihat realitas yang ada, bahwa kita negeri ini bukan negeri bahari.

Pada awal hegemoninya Belanda langsung mengolah daratan, atau tepatnya 1930-an terhadap nusantara, bertujuan guna mengembalikan atau mensejahterakan negerinya dengan motto yang dikenal – sistim ekonomi kapitalis “modal sedikit untung sebesar-besarnya”, walaupun menginjak Hak Asasi Manusia. Namun bisa jadi Belanda mengadopsi paham ekonomi abad ke XVIII yakni berkembangan paham fisiokrasi yakni suatu paham yang dipelopori oleh Quesnay yang berpandangan bahwa tanah (baca : daratan) satu-satunya sumber kekayaan. (Asvi Warman Adam : 1994). Namun tidakkah kita sadar baru sebentar terjadi putar haluan Belanda terhadap realitas negeri ini.

Ide – ide daratan segalanya mulai luntur atau bergeser, dengan pemahaman bahwa realitas daerah dudukannya memang negeri bahari. Dalam sejarahnya di saat masih tergopoh-gopoh dalam masalah ekonomi, negeri induk membiarkan atau mepermudah berdirinya maskapai pelayaran swasta yakni Nederlandsch Handel Maatschappij (NHM) beroperasi. Di kawasan pantai barat Sumatera tepatnya NHM dari Singkel hingga Inderapura, perusahaan inilah yang memonopoli seluruh pelayaran, kopi, emas ke luar daerah pedalaman Sumatera sampai membuka cabang di pedalaman Sumatera’s Westkust seperti Pajakumbuh. (G. Asnan : 2006).

Hal inilah yang kurang atau tidak disadari, dan dimengerti oleh pemimpin bangsa dari dulu sampai saat ini, sehingga potensi yang ada juga takdir sebagai negeri kepulauan, tidak dimanfaatkan – tidak begitu halnya bangsa asing.

Tiga Syarat

Dalam menjawab masalah bagaimana mewujudkan mimpi jaya di laut (Jelasveva Jayamahe) ada tiga syarat sebenarnya yang bisa dan harus dilakukan. Pertama, adanya perhatian pemerintah pada masalah kelautan, bukan hanya semboyan belaka, saat pemilu atau kampanye di daerah pesisir dengan “nenek moyang seorang pelaut”, “kita bangsa bahari” dan sebagainya. Wujud dari perhatian pemerintah tentu diharapkan dari segi dana. Jangan, dari tahun ke tahun dana makin minim. Tahun ini saja presiden SBY masih memakai jargon doeloe, untuk menekan anggaran pertahanan sehingga sector pertahanan hanya mendapat alokasi senilai 35 truliyun sebagai realisasi anggaran pertahanan 2009 (kompas 9/10/08).

Dengan aliran dana yang memadai, maka akan dibangun banyak museum TNI AL yang menceritakan bagaimana perjalanan panjang dari “raja laut Indonesia” dan tentunya menjaga dan sebagai identitas, nantinya sebagai kenangan kegagahan armada laut Indonesia dalam menjaga negeri ini, dan yang terpenting bermanfaat untuk masyarakat luas. Layaknya TNI AU juga mempunyai Museum Karbol Akedemi Angkutan Udara (AAU) di Yogyakarta salah satunya yang diresmikan dihari HUT TNI ke-62. Tentu yang tidak kalah penting yakni harus adanya pelabuhan – pelabuhan yang layak. Bisa jadi hari Dharma Samudra sekarang ini, TNI AU juga akan membangun museum di daerah-daerah syarat makna dan perjuangan.

Milihat situasi di Indonesia ini dalam sejarah panjangnya memang selalu serba dilema. Mau pilih senjata atau beras (the guns or butter). Di setiap situasi persis bersamaan – ada dua hal yang penting dan harus dipilih satu diantaranya. Ibarat mendapat buah simalakama, diambil A, B hilang, dipilih B, A lenyap. Mau apalagi dan pilih yang mana.

Kedua, perlunya sikap profesional dari alat negara khususnya TNI AL. Walaupun tahun lalu anggaran lebih besar dari tahun 2009 ini, namun bukan satu alasan yang objektif bila mengorbankan harga diri NKRI di mata negara-negara tetangga ataupun dunia. Dengan kesadaran adanya “penyakit menahun” pada anggaran pertahanan, tak jadi alasan lagi kekurangan alutsista, berbanding dengan meningkatnya penjarahan terhadap kekayaan alam laut, yang membuat kita rugi triliyunan. Dampak yang nyata jelas terlihat di pesisir setiap hari, dimana pelaut kita hanya bisa menelan air ludah, tak ada ikan lagi yang akan diambil.

Ketiga yang paling penting yakni perlu jiwa dan mental besar untuk melahirkan atau mewujudkan cita-cita menjadi raja laut. Di samping juga mimpi yang akan membuat kita terbakar – untuk maju dalam mewujudkan tentunya. Ibarat permainan bola, hanya bermodal seluruh pemain skill prima, kekompakan tim solid, dan di luar semua itu kesejahteraan pemain terjamin, namun mental juara tak ada, ditambah mimpi untuk membanggakan negeri nilih, maka dengan sedikit pressure (tekanan) dari tim lawan, maka semua tim kocar-kacir, banyak kesalahan dan menyalahkan antara satu dan lainnya, al-hasil sedikit kritik dibilang anti.

Sebenarnya secara historis setelah kosensus, kita bisa bercermin kepada sejarah Indonesia abad VII – XIII lewat kejayaan Kerajaan Sriwijaya. Pada konteks ini bisa dikatakan bahwa Sriwijaya adalah kerajaan maritim yang menguasai nusantara pertama kali terfokus pada daerah di bagian barat hingga tanah semenanjung, Malaysia, (kompas, 5/10/08).

Sebenarnya, bila dilihat secara mendalam tiga cara mewujudkan mimpi laksana tigo tungku sajarangan (baca : tiga tungku baru untuk memasak) yang satu membutuhkan yang lain untuk bergerak dan berkreasi sempurna. Pemerintah adalah satu instrument penting untuk melenyapkan mitos di masyarakat desa bahwa laut itu pemisah – selat itu pemutus dan sebagainya. Bukan dengan jalan penebaran planflet, iklan atau sebagainya bahwa kita negara bahari, tetapi berusaha untuk mencukupi kebutuhan anggaran. Akhirnya kita bisa berdiri tegak dan dihargai tetangga ataupun di mata dunia.

*** Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Sejarah

No responses yet

Apr 08 2008

Published by sianok under Budaya

                               Budaya Mandul, Mandul Budaya

                                        Oleh : Rudi Hartono Gece ***

Syarat mutlak yang harus dimiliki untuk menjadi bangsa yang cerdas yakni terciptanya rasa kemerdekaan dari segala sisi, namun bila perasaan atau mental terjajah ada dan masih “dibangga-banggakan” maka tak akan tercipta kecerdasan di daerah atau di wilayah itu.

Begitupun masalah budaya, untuk berkembang budaya dan kebudayaan seharusnya merdeka tanpa intervensi apapun. Ia akan melahirkan manusia yang berbudaya dan juga mengembangkan budaya cerdas untuk menjawab tantangan masa depan.

Namun ini tak terjadi di Indonesia. Paling tidak pada masa Orde Baru (Orba). Dulu budaya tak berkembang karena dijajah bangsa asing, namun sekarang ia dijajah orang sendiri (Walaupun banyak orang yang coba menafikan kenyataan ini dengan berbagai bantahan kuat). Budaya yang dikembangkan dulu mempunyai ruh stratafikasi dan mengindahkan nilai-nilai kemanusiaan.

Tak ada sikap menentang, semua harus seragam, dari Sabang sampai Merauke. Dengan penyeragaman kita mudah untuk menerapkan kebijakan. Dan mudah dalam pengontrolan.

Hal ini tidak ada salahnya, namun jelas ini terbentur dengan sejarah bangsa Indonesia dan seolah bertentangan dengan ungkapan yang sering didengung-dengungkan “kita berbeda namun tetap satu”. Dalam ungkapan ini terkandung pemahaman bahwa kita tak satu etnis saja berbaga etnis yang mempunyai kekhasan dan keunikan masing-masing.

Sehingga bila dilakukan penyeragaman, maka kekhasan dan keunikan yang dari dulu kita bangga-banggakan ternodai. Atau kata yang lebih ektrim yakni pemusnahan etnis karena tak ada lagi manusia yang mengembangkan dan memakai budaya yang seharusnya ia pakai.

Dan jelas tak akan bermanfaat banyak karena masalah beragam tapi rumus pemecahan hanya satu. Dan menimbulkan masalah baru yang tak kunjung usai hingga sekarang. Terjadi tumpang tindih antara “titah” di atas dengan penerapan di bawah menghadapi keadaan yang ada.

Budaya Mandul

Karena keadaan yang tak kunjung selesai jelas mengisyaratkan ada sesuatu dan malahan semuanya sedang sakit. Tak ada titik temu dalam masalah yang dihadapi bangsa, mulai dari naiknya harga sembako, kurangnya perlindungan terhadap konsumen dan masih banyak lagi.

Sampai – sampai kita tak merasakan adanya kontrol dari pemerintah tentang keadaan ini, pemerintah yang diharapkan jadi “wasit” untuk melihat dan menjatuhkan hukuman dari setiap pemain yang pura-pura atau sengaja bersikap tak wajar namun, pada kenyataannya pemerintah hanya di posisi penonton yang duduk di tribun umum dan jauh dari aktifitas semuanya. Sehingga fungsi pemerintah tak terlihat sehingga oknum mudah mencari celah untuk kepentingan pribadi.

Sehingga untuk merubah keadaan tersebut butuh waktu karena kebanyakan orang sudah mulai terbiasa dan menganggap itu hal yang baik. “Ya biarlah namanya juga Indonesia, kita harus maklum”. Rakyat sudah banyak “bijaksana”, padahal apa yang dikendakinya belum padahal itu adalah kewajiban negara walaupun tak ada kelihatan jalan untuk mencapai tujuan kesejahteraan sosial tersebut.

Budaya yang tercipta bukan produk dari rezim yang berkuasa tetapi tercipta dari proses ke dalam tubuh masyarakat yang mengembangkan dan diterima lalu menjadi karakter, prilaku dan sikap hidup. Budaya yang cerdas bukan berlandaskan pada warna kulit, bentuk fisik dan lain-lain. (Fadlilah : 2006) 

Biarkanlah budaya menjadi dan tetap berproses ke dalam dan mampu menciptakan alternatif baru yang bisa menjawab masalah, bukan menjadi menara agung yang dianggap tinggi dan tak bisa untuk diganggu gugat kembali dan hanya untuk kebanggaan semu.

*** Penulis adalah mahasiswa Ilmu Sejarah, Unand.

No responses yet

Mar 04 2008

Published by sianok under sejarah

                                                 Pertanyaan Nasionalisme

                                                  Oleh : Rudi Hartono G***  

Negara adalah suatu kesatuan yang diperoleh dari kesamaan historis, latar belakang yang sama, dan kesamaan dalam cita-cita (Renan) 

Mengkaji masalah nasionalisme (paham cinta tanah air) diberbagai negara sesungguhnya hal yang menyasikkan dan menghentakkan. Bagaimana hasil baik, maka itu berita baik, tetapi ternyata hasil kurang baik tentu menakutkan. Bukan hanya menentukan cinta seorang kepada negaranya namun yang lebih penting yakni apakah negara tersebut berhasil atau tidak dalam mencapai cita-citanya.  

 Dan bila panah tersebut diarahkan kepada Indonesia tentu perlu dijabarkan indikator sebelum menyimpulkan keadaan tersebut. Dan salah satu indikatornya yakni tergantung bagaimana tingkat kesejahteraan masyarakat. 

Bila ditarik ke bawah tentang nasionalisme pada negara berkembang seperti Indonesia  tentu mengalami pasang surut pasang-naik. Ia bisa “naik” sewaktu negara bisa dibanggakan dan sebaliknya bila bisa dibanggakan (dalam berbagai hal), maka tentu akan turun, dan kalau itu berlangsung lama, maka itu gawat dan penguasa harus belajar mendengar (Solo, Widji Toekul) 

Namun sekarang masalah cita-cita yang tertuang dalam undang-undang  jauh panggang dari api. Rakyat jauh dari makna sejahtera. Sehingga, di dalam masyarakat terjangkit “virus” yang berakibat denasionalisme. Orang bisa saja menjual cagar budaya dan barang yang bernilai historis yang menjelaskan jati diri bangsa, namun seenaknya menjual kepada asing karena rasa tersebut telah hilang. Dan hilangnya tersebut tentu tidak dengan cara sihir namun keadaan ini menjelaskan suatu proses yang panjang dari kegagalan demi kegagalan bangsa ini. 

Sekarang kata nasionalisme dijadikan sebuah kata benda yang disakralkan dan dirayakan dengan acara tipis makna. Sebenarnya kata nasionalisme harus diletakkan menjadi kata kerja, sehingga bila diletakkan dalam kata kerja ia akan terus berproses ke arah yang lebih dan makin  baik. 

Namun yang dicurigai yakni adalah nasionalisme dari orang bawah (orang kebanyakan). tentu ungkapan “jangan pikirkan apa yang diberikan pada negara kepada kita tetapi, apa yang diberikan kita pada negara” tentu masuk telingga kiri keluar ke telinga kiri (tak mempan). Orang kebanyakan menginginkan kebalikan dari jargon di atas. 

Terlebih orang kebanyakan tak mempunyai elite yang bisa dibanggakan dan menjadi sosok yang bisa menjadi panutan, kerena elite vokal di saat ia tak menjabat, namun setelah menjabat ia seolah mengikuti budaya yang ada dan berkembang. Dan itu terjadi di pusat dan di daerah. 

Ditambah gencarnya permintaan dan hasutan dari luar dengan iming-iming materi yang melimpah didukung oleh  pengawasan yang longgar di Indonesia sehingga niat yang ada semakin kokoh berdiri karena kesempatan yang berbuka lebar.

 Usaha Pemerintah

Masih ingatkah kita sebuah iklan Pertamina (Perusahaan Tambang Milik Negara) yang berbunyi “kita untung bangsa untung”. Tentu dengan ungkapan slogan ini tentu tersirat suatu himbauan yang mengandung nasionalisme, bahwa bila mengunakan produk dalam negeri, maka negara dan rakyat mendapatkan untung dua kali. 

Tentu bila diarahkan kepada isu nasionalisme ini, terlihat atau sudah dideteksi oleh perusahaan milik negara, bahwa rakyat sudah tak mencintai atau menurunkan kecintaan pada negara ini. Sehingga, dengan iklan ini diharapkan semoga nasionalisme rakyat kembali. 

Negara juga tidak mau lepas tangan dengan keadaan ini. beberapa tahun yang lalu kita ingat dan rasakan bagaimana di media nasional membicarakan bagaimana peta perbandingan kekuatan kita dengan negara tetangga yakni Malaysia . Dalam kasus tersebut disebutkan bahwa pihak Malaysia dianggap telah melanggar daerah kedaulatan NKRI, sehingga rakyat dan segenap warga negara meneriakan “ganyang Malaysia ” (ungkapan yang pertama dipolulerkan oleh Soekarno). 

Dalam kasus ini dan bila dikaitkan dengan isu melemahnya nasionalisme orang kebanyakan tentu cocok. Dan dengan ini didukung oleh gencar berita di media, maka bisa mengakibatkan nasionalisme yang sempat tertidur pulas atau tergadaikan kembali terbangun atau ditebus. 

Dengan dua kasus ini saja terlihat bahwa nasionalisme sudah rapuh dan menjadi mitos. Dan pemerintah dan perusahaan milik negara sudah menditeksi ini. Namun, kalau hanya dengan slogan dan insiden itu ke itu saja,  yang menjadi “generator” pengerak nasionalisme, maka jelas ini bersifat pendek. Naik, di saat isu berkembang dan riuh rendah bila isu itu tak hangat.  

Sehingga untuk menjawab itu semua diperlukan perubahan dari segala element. Pertama mulai dari elite harus bisa menjadi figur yang menjadi panutan dan menghentikan budaya koruptif yang menjadi ukuran apakah ia cinta pada tanah air ini. Kedua, rakyat kebanyakan harus melihat secara objektif (apa adanya) bahwa sekarang sudah terlihat kemajuan walaupun  geraknya samar namun pasti. Dan pemerintah harus menciptakan kebijakan yang berorientasi kepada keinginan dan kebutuhan rakyat. Dan keempat, media cetak jangan atau coba bersikap lebih netral dalam memberikan suatu berita sehingga, bisa diterima secara apa adanya di masyarakat tanpa pengaruh subjektifitas. 

Setelah ini berjalan dengan baik, maka nasionalisme dari semua element bangsa ini tubuh dan berbuah manis. Dan inilah yang kita harapkan semua. Semoga.  

*** Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Sejarah Indonesia, Universitas Andalas.  

No responses yet

Feb 04 2008

Published by sianok under Budaya

Pedagang Negeri Sipil
Oleh : Rudi Hartono G***

Dalam minggu ini, banyak orang Minang yang membicarakan tentang kedatangan para saudagar Minangkabau yang telah berhasil. Dan karena telah berhasil menjadi pedagang sukses, sekarang para pedagang tersebut datang dan bersilahturrahmi di Padang.

Tentu dengan kedatangan para saudagar yang telah berhasil ini menimbulkan berbagai pertanyaan yakni apa tujuan kedatangan orang besar ini, atau malah hanya silahturrahmi biasa, tanpa tidak lanjut bagi orang banyak. Atau ini suatu pertemuan yang akan membahas nasib orang Minangkabau kebanyakan yang sekarang bisa dikatakan hanya sebagai saudagar kaki lima, di persimpangan jalan yang selalu terkena razia ‘penertiban’. Atau akan memberikan bantuan perupa moril dan materil terhadap pedagang yang berjiwa keras, tetapi kurang dana dalam bertahan dan pengembangan usaha.

Dalam hal ini tentu yang ditunggu oleh masyarakat banyak bukan hanya masalah para saudagar bertemu sesama di tanah kelahiran dan menceritakan keberhasilannya di negeri orang dan akhir pulang meninggalkan macet di mana-mana.

Tetapi bagaimana setelah acara ini ada imbas yang nyata dan terasa yang dapat dirasakan orang Minang kebanyakan dari kedatangan orang sukses yakni para saudagar Minang.

Latar Belakang Kedatangan
Tentu dalam kedatangan para saudagar tersebut, ada latar belakang yang sangat kuat sehingga para saudagar besar mau dan bersedia, meluangkan waktu dua hari untuk datang ke Padang.

Dalam hal ini dapat kita prediksi alasan apa yang melatarberlakangi kedatangan para saudagar tersebut. Pertama, salah satu kebiasaan dari masyarakat Minangkabau khususnya dalam masa hari raya, bagi orang yang telah lama, merantau untuk datang ke kampung untuk bertemu kerabat dekat yang telah ditinggalkan dulunya. Dan tradisi ini telah melekat erat bagi orang Minang sampai sekarang.

Kedua, ada rasa prihatin dengan orang kampungnya sendiri yang sekarang tak terdengar lagi, baik dalam perpolitikan nasional dan perdagangan nasional. Padahal, pada dahulunya, orang Minang adalah salah satu etnis yang selalu bersaing untuk maju ke kursi pimpinan nasional dengan etnis Jawa. Dan salah satu etnis yang mempunyai jiwa pegadang yang kuat sejak dulu, selain etnis Tionghua.

Ketiga, memberikan semangat lagi kepada generasi muda, untuk jangan takut dalam perdagang, karena pedaganglah salah satu usaha untuk menjadi sukses dan kegiatan yang dianjurkan nabi Muhammad dan sekaligus nabi mencontohkan sendiri.

Dalam tiga alasan ini, ada perlunya kita pecah satu persatu, pertama alasan yang menjelaskan, bahwa pertemuan ini yakni ajang silahturrahmi. Tentu pernyataan ini ada benarnya, karena sekarang masih semarak hari raya tentu para pedagang ingin berkumpul dan bersuka-ria dengan keluarga yang telah lama tak bertemu. Tetapi yang perlu dicurigai adalah mengapa baru sekarang ada hal semacam ini, mengapa tahun kemarin tidak ada hal serupa. Pasti adalah yang lebih besar yang mendasarinya.

Kedua yakni adanya rasa ‘keibaan’ dari para pedagang yang sukses sekarang, pada anak kemenakan dan dunsanaknya di kampung. Mengapa sekarang tak ada lagi timbul para pedagang muda untuk mengantikan mereka kelak. Seolah jiwa pedagang telah hilang ditelan masa dan sekarang para kaum muda hanya berorientasi sebagai Pegawai Negeri saja (sebut PNS).

Ketiga, memberikan motivasi bagi kaum muda untuk menjadi pedagang seperti dirinya. Hal ini bersangkut dengan alasan kedua karena tak ada lagi kaum muda Minang yang menjadi pedagang sukses dan alasan memberi semangat pada yang muda karena kaum muda adalah kaum yang berani dan mempunyai nilai juang yang tinggi dan menjadi penerus.

Masa Doelo
Masih ada pemeo yang masih teringat tentang pendapat masyarakat Minangkabau tentang Pewagai Negeri yakni “umua panjang sadangkan gaji ba-agak-an”. Dari pemeo ini terlihat bagaimana, pandangan umum orang Minang dengan status pegawai pemerintah dulunya. Orang Minang, tak mau terikat dan tak mau menjadi anak samang selalu. Dalam hal ini pun juga ada satu istilah yang berkembang pasa masanya yakni ‘apakah kita ingin selalu jadi semut yang selalu terinjak gajah atau sebaliknya kita mengadu nasib dan berjuang keras untuk menjadi gajah’.

Tabiat orang Minang yang selalu ingin di atas ini tentu tak bisa terbendung dengan imbalan dan status pekerjaan pegawai pemerintahan, sehingga pekerjaan yang telah lama dijalani para leluhur orang Minang yakni perdagang, masih menjadi solusi terbaik.

Pada masa tersebut, anak orang Minang yang menjadi pegawai bisa dihitung dengan jari. Bahkan, pada masanya orang yang menjadi pegawai dianggap orang yang kurang kreatif dan lemah tak memiliki kepercayaan diri terhadap kemampuan yang dimilikinya.

Tetapi lambat laun, seiring berjalannya waktu, pendapat dan pameo tentang pegawai pemerintah, makin lama makin terkikis dan menghilang. Para kaum muda hanya ingin ‘main aman’ dan tak mau berspekulasi dengan nasib. Dalam masa muda ia tak mau ‘bermain dulu’, seolah pekerjaan pegawai adalah pekerjaan terbaik untuk saat ini.

Pedagang Negeri Sipil (PNS)
Sebenarnya, dalam masa sekarang ini terlalu naïf kita mengatakan, bahwa orang muda telah meninggalkan sifat pedagangnya dan sekarang hanya berorientasi terhadap pekerjaan pegawai pemerintah. Memang hal ini ada benar, tetapi perlu di cek lagi bukankah banyak juga orang Minang setelah menjadi pegawai pemerintah juga menjadi pedagang dan sekarang menjadi istilah baru yakni Pedagang Negeri Sipil.

Hal ini tentu disebabkan karena modal untuk bertahan dalam berdagang sangat besar, terlebih dalam pengembangan usaha tentu perlu dana lebih besar. Dengan menjadi pegawai pemerintah para kaum muda Minang, bisa mendapatkan modal untuk bertahan dan berkembang di tengah persaingan yang makin berat.

Memang dalam hal ini jelas, orang Minang yang berdagang sekaligus jadi pegawai pemerintah tak akan bisa menjadi orang besar. Hal ini disebabkan karena kedua pekerjaan ini tentu meminta tumbal ‘keseriusan’ sedangkan bila satu saja yang jadi priorotas banyak juga orang yang tak sukses apalagi sekali dua pekerjaan. Sehingga dua pekerjaan tak ada satupun yang menjadi sandaran untuk hidup.

Akhirnya, dengan adanya pertemuan para saudagar Minang diharapkan bisa menjadi penerang, bagi kaum muda untuk kembali menjadi pedagang tulen bukan pedagang sekaligus pegawai. Tentu para kaum muda tak hanya memerlukan motivasi saja, juga kaum muda membutuhkan sokongan dana untuk bertahan dan mengembangkan usaha. Semoga dalam ajang ini menjadi awal indah bagi para pedagang Minang dan bisa mambangkik batang tarandam etnis Minang.

*** Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Sejarah, Unand.

One response so far

Feb 04 2008

Published by sianok under Budaya

“Braindrain” dan Stagnasi Budaya

Oleh : Rudi Hartono Gece***

 

Permasalahan atau pertentangan tentang budaya memang tak akan pernah habis hingga masyarakat yang akan memakai atau mengembangkan sudah tak ada lagi. Tetapi selama masih ada masyarakat, maka pro-kontra masalah budaya antara kaum modenis dan kaum konservatif akan selalu menjadi masalah klasik.

Kaum modernis (baca: muda) menginginkan hasil kebudayaan yang akan tercipta oleh kaum konservatif (baca: tua) bisa menjawab semua permasalahan dan tantangan masanya itu, tetapi kenyataan lain. Sehingga kaum muda ingin mencari solusi dan berusaha menciptakan budaya yang bisa menjawab masalahnya sendiri.

Tentu di satu pihak kaum tua sebagai orang yang merasa telah berpengalaman, selalu mengambil fungsi kontrol dengan apa yang diperbuat oleh kaum muda, sehingga bila ada budaya baru yang bertentangan dengan budaya lama, maka akan terjadi pembenaran dan penolakan oleh kaum tua. Sehingga, tercipta dua kubu yang bersebrangan lalu akhirnya akan menimbulkan pergesekan.

Dari banyak pengalaman, maka selalu kaum muda yang akan dan harus kalah, sehingga tak ada alternatif terbaik selain merantau. Dan di rantau ia mulai berjuang dan mencoba mengembangkan budaya baru yang baik itu.

Budaya Merantau

Istilah merantau bagi orang Minang bukan sesuatu hal yang baru lagi, ia sudah berkembang dan telah jadi budaya sejak dulunya. Walaupun, motif merantau sangat beragam dan wilayah yang menjadi tujuan yakni di daerah pesisir pantai Barat Sumatra, Riau dan Malaysia.

Paling kurang ada beberapa banyak motif dan kaum golongan kaum yang merantau, pada awalnya hanya karena motif ekonomi, hal ini terjadi jauh sebelum Belanda datang ke tanah Minang dan golongan yang pergi umumnya para saudagar. Kedua, pada saat perang padri dan golongan yang merantau umumnya kaum ulama dan yang terakhir pada saat awal kemerdekaan umumnya golongan pergi beragam dan tujuan untuk “mencari aman”.

Tetapi, bukan hal ini yang akan kita kupas di sini, karena masalah ini sudah lumrah terjadi dan selalu diperbincangkan. Lalu hal yang kita kupas yakni mengapa budaya khususnya di Minang yang tercipta selalu tak berkenan bagi kaum muda yang akan menjalankannya. Mungkin dampak “braindrain” bisa menjawab keadaan ini.

Perpindahan kaum yang berintelektual tinggi ke kota dan kedatangan kaum yang kalah dalam persaingan di kota ke nagari asal, tentu biasa terjadi dimana saja. Kepergian kaum intelektual tinggi tersebut bukan karena tak ada alasan yang jelas, tetapi secara sederhana motif kepergian yakni ingin mendapat sesuatu yang tak tersaji di daerah asal, namun bisa didapat di luar dan para perantau pergi tentu menyiapkan apapun untuk bersaing, secara tersirat orang yang pergi adalah Putra Terbaik Daerah (PTD). Tentu sebaliknya, kaum yang tak dapat bertahan dan berkembang di kota akan terpingirkan dan hanya ada satu jalan untuk bertahan yakni dengan kembali ke nagari asal.

Memang hal ini lumrah dan biasa saja terjadi, tetapi yang perlu kita curigai apa yang dilakukan oleh “orang kalah” tadi di nagari asal. Bukankah orang yang kalah saing adalah orang yang identik dengan kurang kreatif, kurang dinamis dan masih banyak lagi cirinya.

Dan bila orang kalah saing ini ‘mujur’ di nagari asal lalu menjadi pemimpin dan menciptakan kebijakan baru, lalu yang menjadi pertanyaan selanjutnya apakah orang ini bisa atau mampu menciptakan dan menjawab tantangan yang selama ini menjadi masalah di Minang.

Karena ia telah menjadi seorang pemimpin dan anggapan banyak orang, pemimpin adalah orang yang cerdik-pandai, maka dengan terpaksa ia menciptakan “budaya baru” tetapi meniru budaya yang telah sukses di zaman. Dan ia beranggapan, bahwa budaya lama adalah satu-satunya solusi dari masalah zaman ini.

Padahal, bila dilihat secara mendalam, bukankah budaya itu tinggi dan besar hanya pada masanya. Dan tentu bila dicoba dan dipaksakan, maka akan terjadi pertentangan antara kaum yang menciptakan (kaum tua) dengan kaum yang menjalankan (kaum muda) kerena tak sesuai lagi dengan zaman dan permasalahan yang terjadi sekarang.

Masa Jaya

Pada masa keemasan budaya Minangkabau kita lihat, bagaimana budaya yang ada di sedang digandrungi dan disukai. Hal ini bukan omong kosong belaka. Lihat saja kenyataan bagaimana orang Malaysia meminta guru-guru dari Minang untuk mengajarkan di sana.

Dan bukan hanya itu saja, pemerintah juga banyak mengirim pelajar untuk menuntut ilmu di Minang dan sekaligus belajar kebudayaan di sini yang mereka anggap bisa membuat semua berkembang. Tentu fakta sejarah ini membuktikan, bahwa budaya Minang sempat besar dan berjaya.

Tetapi, sekarang coba kita lihat bagaimana tingkat perbandingan antara guru (Minang) dan murid (Malaysia). Sekarang murid yang kita ajar, kini telah menjadi orang besar dan cerdas, sedang gurunya masih “jalan ditempat” sehingga sekarang orang Minang dengan kepala menunduk ke bumi harus belajar kembali dengan murid yang sempat diajar dulu. Lalu yang menjadi pertanyaan apakah ini bukan suatu kemunduran atau hanya jalan di tempat.

Tentu kenyataan ini bisa menjadi renungan, bukankah budaya itu hakekatnya bisa berubah dan bergerak sesuai dengan zaman, dan bukan hal yang stagnan (jalan di tempat). Dengan kita berani menciptakan dan berani menerima semua hal yang baik dari luar, lalu mengolah dan memadankan dengan adat nan ndak langkang jo paneh, ndak lapuak jo hujan, maka dengan bertahap akan menciptakan budaya baru yang bisa dibanggakan dan dihargai oleh orang banyak.

Tidak ariflah kita bila, menumpuk kesalahan para Putra Terbaik Daerah (PTD) yang meninggalkan daerah, lalu dianggap tak mencintai negeri asalnya. Bukti kecintaan jelas pada waktu lebaran atau hari besar, para PTD berbondong-bondong untuk pulang basamo. Tetapi hanya sebentar saja hingga berlalu dan pergi.

Seharusnya kita, dengan sedikit usaha dan trik menarik minat PTD untuk bisa tinggal di sini. Tetapi bukan dengan cara dipaksa untuk tinggal dan dilarang pergi. PTD akan dengan sendiri tak ingin meninggalkan daerahnya bila di sini ada yang mereka cari. Baik berupa pendidikan yang berbobot, lapangan kerja yang memadai, maka nagari ini takkan kehilangan Putra Terbaik dan nantinya mereka bisa menjawab permasalahan yang dihadapi nagarinya sendiri.

*** Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Sejarah, Unand.

No responses yet

Feb 04 2008

Published by sianok under sejarah

Sejarah Masa Depan

Oleh : Rudi Hartono G***

 

Pertama kali membaca judul ini bagi orang yang sudah mengetahui tentang pengertian apa itu sejarah ataupun ilmu sejarah, maka judul ini kontras dengan pengertian sejarah. Bagaimana tidak di awal dan di tengah belajar atau membaca buku sejarah maka yang terlihat dan tersaji hanyalah peristiwa masa lalu. Sehingga secara jelas terlihat karakteristik dari studi sejarah yakni mengjaki peristiwa masa lalu.

 

Tentu alasan yang membuat judul ini muncul akibat “rasa iba” melihat apresiasi anak muda (SLTP, SLTA atau sederajat) terhadap pelajaran Sejarah atau jurusan Sejarah (bila ia melanjutkan kejenjang berikutnya) ungkapan yang beredar yakni  “pelajaran Sejarah menbosankan dan melelahkan otak, karena berkutak pada hafalan  hari, tanggal, bulan, dan tahun” padahal peristiwa yang akan dihafal sangat banyak mulai dari pelajaran pra-sejarah sampai sejarah kotemporer, itu baru di Indonesia belum sejarah dunia.”

 

Sehingga banyak orang yang umum ataupun orang yang telah lama berkecimpung dalam dunia Sejarah ikut memberi solusi tentang keadaan ini. Salah satu solusi  yakni bagaimana kalau Ilmu Sejarah atau buku sejarah menambah lahan garapan yakni masalah masa depan, sehingga  sejarah yang dibaca akan menarik karena ikatan emosi bagi pembaca dekat. Dan  ia tak tertinggal jauh dari ilmu sosial lain yang masih diminati.

Tantangan

Tentu dalam setiap tindakan, dan akhirnya berlanjut pada putusan, maka akan bertemu dengan tantangan dan hambatan. Tentu dalam hal ini bisa diprediksi ganjalannya yakni  orang yang menginginkan sejarah jangan berubah, seperti ungkapan bila diubah, maka tentu kita akan melanggar “rukun” dalam ilmu sejarah dan bila itu dilanggar akan mengakibatkan kajian tersebut bukan sejarah lagi tetapi harus diredefinisikan lagi nama ilmu tersebut.

Ilmu sejarah adalah suatu kajian tentang aktifitas manusia masa lalu. Dan bila kita sudah mencicipi pelajaran ilmu sejarah dalam dunia universitas maka, salah satu ciri yang membedakan ilmu sejarah (dan kekuatan sejarah) dengan ilmu sosial lain yakni ilmu sejarah kuat dalam masalah temporal atau waktu (masa lalu) dan juga sparsial atau tempat kejadian.
 

Jadi bila kita akan meluaskan ruang ekspansi sejarah, maka tentu mengadaikan atau “menjajakan diri” sendiri.  Akhirnya bila kita hanya bertolak pada pasar maka identitas sejarah sebagai ilmu masa lalu akan terombang-ambing dan akhirnya bisa malah ditinggalkan sama sekali oleh orang. Biarkanlah orang yang mencintai dan menyelami sejarah adalah orang yang “unik” sesuai dengan syarat dari kajian sejarah (historiografi) adalah peristiwa yang unik.

 

*** Penulis adalah Mahasiwa Ilmu Sejarah, Unand.

 

 

 

 

 

 

No responses yet

Jan 23 2008

Published by sianok under Budaya

Cegah Romantisme Masa Lalu

Oleh : Rudi Hartono Gece***

 

Sudah sepuluh tahun usia bagi reformasi sejak dilahirkan dan sekarang sudah akan beranjak dewasa, sudah sepuluh tahun ia mencoba mewujudkan cita-cita yang diamanahkan kepadanya, dan sudah sepuluh tahun lamanya rakyat menunggu realisasi dari amanah itu.

Ternyata janji sewaktu ia dilahirkan belum juga nampak dan menyentuh semua element masyarakat. Akibat dari itu semua, sekarang banyak opini dari rakyat kebanyakan untuk atau menginginkan kembali masa sebelum reformasi dan mengeluhkan kenapa bayi reformasi terlahir di Indonesia ini.

Bagaimana tidak, pagi harga “begini” tetapi siang harganya “begitu”. Sekarang yang berkuasa adalah pasar sedangkan pemerintah yang diharapkan sebagai wasit untuk melihat kecurangan pasar seolah menjadi penonton di tribun umum. Bagaimana pemerintah akan memberi sangsi keras terhadap oknum nakal sedangkan keadaan di pasar masih kabur dari pandangan.

Lalu seolah reformasi dilahirkan sepuluh tahun yang lalu, cacat atau “kembaran gagal” dari pemerintahan feodal dulu. Dan ini karena bayi itu terlahir dari rahim yang menganut budaya feodal dan setelah lahir ia dibesarkan di lingkungan yang masih memakai sistem feodal. Sehingga budaya yang terlahir sepuluh tahun ini menghasilkan budaya “feodal baru” yang tambah ke depan tambah berantakan dan menyengsarakan rakyat.

Pengaruh Media

Semangat yang menginginkan kembali ke masa lalu di kala Presiden Soeharto menjabat juga kembali mencuat disebabkan tayangan media yang akhir-akhir ini. Media mengungkapkan keberhasilan, prestasi dan kehebatan dari penguasa Orde Baru. Namun, kegiatan media ini bukan tanpa alasan euforia itu dipicu dengan fluktuatifnya kesehatan mantan presiden di Rumah Sakit Umum Pusat Pertamina, Jakarta Selatan.

Tanyangan ini menimbulkan lagi keinginan untuk kembali ke masa lalu. Walaupun dengan slogan harus “satu untuk sejahtera dan untuk sejahtera harus mengorbankan semua hanya untuk satu”. Dengan tumbal menghilangkan hakekat substansi dari hak manusia.

Sekarang rakyat tak juga berbicara untuk dirinya sendiri. Bagaimana rakyat bersuara dan menyuarakan pendapat sedangkan pemikiran dan tenaga tercurah untuk menenuhi kebutuhan. Dan di seberang jalan yang merasakan dampak positif dari reformasi sekarang hanya pada segelintir elite yang bisa “bermain” dalam keadaan ini.

Jadi bila keadaan tak menentu ini terus berjalan, maka jangan salahkan rakyat yang menginginkan sistem masa lalu yang dinilai bisa menghasilkan dan menyuguhkan kebutuhan mendasar bagi rakyat, sehingga upaya yang dilakukan untuk menghancurkan dan menghilangkan budaya “menjajah dan terjajah” yang selama ini diusahakan tak diinginkan lagi.

Untuk itu, maka kita harus berusaha untuk menahan desakan dari bawah untuk meminta datangnya kembali sistem masa lalu. Dengan jalan mewujudkan kesejahteraan rakyat, dengan atau tanpa mengorbankan proses yang baik sebagai tumbal untuk menciptakan apa yang diinginkan oleh kita bersama.

*** Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Andalas, Padang.

No responses yet

Jan 17 2008

Hello world!

Published by sianok under Uncategorized

Welcome to Edublogs.org. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!

One response so far

« Prev