Archive for the 'Budaya' Category

Aug 27 2009

Merubah Karakter Budaya Bangsa

Published by sianok under Budaya

Oleh : Rudi hartono ***

Harus diakui bahwa budaya feodal masih ada di tengah-tengah kehidupan kita atau paling tidak budaya feodal yang ada pada masa Orde baru (Orba) masih melekat kuat pada bangsa ini (Fadlillah, 2006).Politik balas budi, patron-client, asal bos senang, dan masih banyak lagi masih kita ditemui secara nyata.

Sepertinya memang, sebelas tahun reformasi masih menyisakan pekerjaan rumah yang berat, karena semua masalah ini bersumber pada karakter sebuah bangsa. Jadi pekerjaan yang selayaknya diprioritaskan adalah bagaimana merubah karakter budaya bangsa.

Namun  semua itu, membutuhkan waktu yang tak sedikit. Terlebih para pemimpin di Indonesia yang diharapkan memberikan contoh bagaimana karakteristik dari bangsa atau negara yang menjunjung tinggi kebebasan dan persamaan.  terdidik dan bergelimang dalam budaya Orba masih mengadopsi budaya mau “menjajah bangsa sendiri”.

Secara psikologi memang sulit dan membutuhkan waktu untuk melepaskan budaya atau pun karakter seseorang yang dibentuk oleh bangsanya sendiri, sehingga terlalu berharap kita melihat bahwa lima atau pun sepuluh tahun ke depan kita bisa melihat hadirnya budaya yang merdeka secara nyata dan menghadirkan makna atau arti seutuhnya dari kemerdekaan.

Tentu keadaan ini menghadirkan sebuah pertanyaan sederhana apakah tidak ada harapan lagi untuk merubah karakter budaya bangsa sehingga budaya bangsa ini mampu mendorong terwujudnya kesejahteraan dan keamanan. Untuk menjawab pertanyaan sederhana ini, dibutuhkan pertama, generasi baru (pemuda/pemudi) yang menjadi actor atau agen perubahan ke arah lebih baik.

Pemuda inilah yang akan menyebarkan budaya baru yang berdasarkan pada keterbukaan dan persamaan hak bagi setiap masyarakat. Pemuda inilah yang akan mencongkel budaya yang telah berurat, berakar. Terlebih suka tidak suka, mau tidak mau pemuda adalah generasi penerus dari bangsa ini ke depan yang perlu disiapkan.

Tetapi sebelum hadirnya generasi baru, maka hal yang paling penting untuk menghadirkan generasi baru atau seperti ucapan Taufik Abdullah manusia yang telah “tercerabut dari akar budaya” feodal yakni adanya sebuah institusi yang bertujuan mencerdaskan dan mencerahkan para penerus bangsa ini.  Institusi ini berkewajiban menyadarkan para penerus bangsa bahwa dia yang akan merubah haluan negeri ini ke depan dan mampu mewujudkan cita-cita negara Indonesia.

Di institusi inilah dikembangkan bagaimana bentuk dan implementasi dari sistem demokrasi yang menjunjung tinggi suara mayotitas di atas segalanya. Di institusi inilah dibentuk sosok pemimpin kuat.  Institusi yang akan menciptakan sebuah mental budaya baru yang membangun bagi generasi penerus bahwa kreatifitas kunci dari segalanya dan berkerja keras adalah jalannya.

Akhirnya merubah karakter bangsa sebenarnya bukan hal yang baru yang disuarakan untuk mencapai atau menciptakan kesejateraan namun penulis berharap bahwa proses ini perlu dilanjutkan dan harus berkesinambungan agar tujuan mulia dari bangsa dan negara Indonesia bisa tercapai. Semoga.

*** Mahasiswa Ilmu Sejarah, Unand Padang.

No responses yet

Apr 08 2008

Published by sianok under Budaya

                               Budaya Mandul, Mandul Budaya

                                        Oleh : Rudi Hartono Gece ***

Syarat mutlak yang harus dimiliki untuk menjadi bangsa yang cerdas yakni terciptanya rasa kemerdekaan dari segala sisi, namun bila perasaan atau mental terjajah ada dan masih “dibangga-banggakan” maka tak akan tercipta kecerdasan di daerah atau di wilayah itu.

Begitupun masalah budaya, untuk berkembang budaya dan kebudayaan seharusnya merdeka tanpa intervensi apapun. Ia akan melahirkan manusia yang berbudaya dan juga mengembangkan budaya cerdas untuk menjawab tantangan masa depan.

Namun ini tak terjadi di Indonesia. Paling tidak pada masa Orde Baru (Orba). Dulu budaya tak berkembang karena dijajah bangsa asing, namun sekarang ia dijajah orang sendiri (Walaupun banyak orang yang coba menafikan kenyataan ini dengan berbagai bantahan kuat). Budaya yang dikembangkan dulu mempunyai ruh stratafikasi dan mengindahkan nilai-nilai kemanusiaan.

Tak ada sikap menentang, semua harus seragam, dari Sabang sampai Merauke. Dengan penyeragaman kita mudah untuk menerapkan kebijakan. Dan mudah dalam pengontrolan.

Hal ini tidak ada salahnya, namun jelas ini terbentur dengan sejarah bangsa Indonesia dan seolah bertentangan dengan ungkapan yang sering didengung-dengungkan “kita berbeda namun tetap satu”. Dalam ungkapan ini terkandung pemahaman bahwa kita tak satu etnis saja berbaga etnis yang mempunyai kekhasan dan keunikan masing-masing.

Sehingga bila dilakukan penyeragaman, maka kekhasan dan keunikan yang dari dulu kita bangga-banggakan ternodai. Atau kata yang lebih ektrim yakni pemusnahan etnis karena tak ada lagi manusia yang mengembangkan dan memakai budaya yang seharusnya ia pakai.

Dan jelas tak akan bermanfaat banyak karena masalah beragam tapi rumus pemecahan hanya satu. Dan menimbulkan masalah baru yang tak kunjung usai hingga sekarang. Terjadi tumpang tindih antara “titah” di atas dengan penerapan di bawah menghadapi keadaan yang ada.

Budaya Mandul

Karena keadaan yang tak kunjung selesai jelas mengisyaratkan ada sesuatu dan malahan semuanya sedang sakit. Tak ada titik temu dalam masalah yang dihadapi bangsa, mulai dari naiknya harga sembako, kurangnya perlindungan terhadap konsumen dan masih banyak lagi.

Sampai – sampai kita tak merasakan adanya kontrol dari pemerintah tentang keadaan ini, pemerintah yang diharapkan jadi “wasit” untuk melihat dan menjatuhkan hukuman dari setiap pemain yang pura-pura atau sengaja bersikap tak wajar namun, pada kenyataannya pemerintah hanya di posisi penonton yang duduk di tribun umum dan jauh dari aktifitas semuanya. Sehingga fungsi pemerintah tak terlihat sehingga oknum mudah mencari celah untuk kepentingan pribadi.

Sehingga untuk merubah keadaan tersebut butuh waktu karena kebanyakan orang sudah mulai terbiasa dan menganggap itu hal yang baik. “Ya biarlah namanya juga Indonesia, kita harus maklum”. Rakyat sudah banyak “bijaksana”, padahal apa yang dikendakinya belum padahal itu adalah kewajiban negara walaupun tak ada kelihatan jalan untuk mencapai tujuan kesejahteraan sosial tersebut.

Budaya yang tercipta bukan produk dari rezim yang berkuasa tetapi tercipta dari proses ke dalam tubuh masyarakat yang mengembangkan dan diterima lalu menjadi karakter, prilaku dan sikap hidup. Budaya yang cerdas bukan berlandaskan pada warna kulit, bentuk fisik dan lain-lain. (Fadlilah : 2006) 

Biarkanlah budaya menjadi dan tetap berproses ke dalam dan mampu menciptakan alternatif baru yang bisa menjawab masalah, bukan menjadi menara agung yang dianggap tinggi dan tak bisa untuk diganggu gugat kembali dan hanya untuk kebanggaan semu.

*** Penulis adalah mahasiswa Ilmu Sejarah, Unand.

No responses yet

Feb 04 2008

Published by sianok under Budaya

Pedagang Negeri Sipil
Oleh : Rudi Hartono G***

Dalam minggu ini, banyak orang Minang yang membicarakan tentang kedatangan para saudagar Minangkabau yang telah berhasil. Dan karena telah berhasil menjadi pedagang sukses, sekarang para pedagang tersebut datang dan bersilahturrahmi di Padang.

Tentu dengan kedatangan para saudagar yang telah berhasil ini menimbulkan berbagai pertanyaan yakni apa tujuan kedatangan orang besar ini, atau malah hanya silahturrahmi biasa, tanpa tidak lanjut bagi orang banyak. Atau ini suatu pertemuan yang akan membahas nasib orang Minangkabau kebanyakan yang sekarang bisa dikatakan hanya sebagai saudagar kaki lima, di persimpangan jalan yang selalu terkena razia ‘penertiban’. Atau akan memberikan bantuan perupa moril dan materil terhadap pedagang yang berjiwa keras, tetapi kurang dana dalam bertahan dan pengembangan usaha.

Dalam hal ini tentu yang ditunggu oleh masyarakat banyak bukan hanya masalah para saudagar bertemu sesama di tanah kelahiran dan menceritakan keberhasilannya di negeri orang dan akhir pulang meninggalkan macet di mana-mana.

Tetapi bagaimana setelah acara ini ada imbas yang nyata dan terasa yang dapat dirasakan orang Minang kebanyakan dari kedatangan orang sukses yakni para saudagar Minang.

Latar Belakang Kedatangan
Tentu dalam kedatangan para saudagar tersebut, ada latar belakang yang sangat kuat sehingga para saudagar besar mau dan bersedia, meluangkan waktu dua hari untuk datang ke Padang.

Dalam hal ini dapat kita prediksi alasan apa yang melatarberlakangi kedatangan para saudagar tersebut. Pertama, salah satu kebiasaan dari masyarakat Minangkabau khususnya dalam masa hari raya, bagi orang yang telah lama, merantau untuk datang ke kampung untuk bertemu kerabat dekat yang telah ditinggalkan dulunya. Dan tradisi ini telah melekat erat bagi orang Minang sampai sekarang.

Kedua, ada rasa prihatin dengan orang kampungnya sendiri yang sekarang tak terdengar lagi, baik dalam perpolitikan nasional dan perdagangan nasional. Padahal, pada dahulunya, orang Minang adalah salah satu etnis yang selalu bersaing untuk maju ke kursi pimpinan nasional dengan etnis Jawa. Dan salah satu etnis yang mempunyai jiwa pegadang yang kuat sejak dulu, selain etnis Tionghua.

Ketiga, memberikan semangat lagi kepada generasi muda, untuk jangan takut dalam perdagang, karena pedaganglah salah satu usaha untuk menjadi sukses dan kegiatan yang dianjurkan nabi Muhammad dan sekaligus nabi mencontohkan sendiri.

Dalam tiga alasan ini, ada perlunya kita pecah satu persatu, pertama alasan yang menjelaskan, bahwa pertemuan ini yakni ajang silahturrahmi. Tentu pernyataan ini ada benarnya, karena sekarang masih semarak hari raya tentu para pedagang ingin berkumpul dan bersuka-ria dengan keluarga yang telah lama tak bertemu. Tetapi yang perlu dicurigai adalah mengapa baru sekarang ada hal semacam ini, mengapa tahun kemarin tidak ada hal serupa. Pasti adalah yang lebih besar yang mendasarinya.

Kedua yakni adanya rasa ‘keibaan’ dari para pedagang yang sukses sekarang, pada anak kemenakan dan dunsanaknya di kampung. Mengapa sekarang tak ada lagi timbul para pedagang muda untuk mengantikan mereka kelak. Seolah jiwa pedagang telah hilang ditelan masa dan sekarang para kaum muda hanya berorientasi sebagai Pegawai Negeri saja (sebut PNS).

Ketiga, memberikan motivasi bagi kaum muda untuk menjadi pedagang seperti dirinya. Hal ini bersangkut dengan alasan kedua karena tak ada lagi kaum muda Minang yang menjadi pedagang sukses dan alasan memberi semangat pada yang muda karena kaum muda adalah kaum yang berani dan mempunyai nilai juang yang tinggi dan menjadi penerus.

Masa Doelo
Masih ada pemeo yang masih teringat tentang pendapat masyarakat Minangkabau tentang Pewagai Negeri yakni “umua panjang sadangkan gaji ba-agak-an”. Dari pemeo ini terlihat bagaimana, pandangan umum orang Minang dengan status pegawai pemerintah dulunya. Orang Minang, tak mau terikat dan tak mau menjadi anak samang selalu. Dalam hal ini pun juga ada satu istilah yang berkembang pasa masanya yakni ‘apakah kita ingin selalu jadi semut yang selalu terinjak gajah atau sebaliknya kita mengadu nasib dan berjuang keras untuk menjadi gajah’.

Tabiat orang Minang yang selalu ingin di atas ini tentu tak bisa terbendung dengan imbalan dan status pekerjaan pegawai pemerintahan, sehingga pekerjaan yang telah lama dijalani para leluhur orang Minang yakni perdagang, masih menjadi solusi terbaik.

Pada masa tersebut, anak orang Minang yang menjadi pegawai bisa dihitung dengan jari. Bahkan, pada masanya orang yang menjadi pegawai dianggap orang yang kurang kreatif dan lemah tak memiliki kepercayaan diri terhadap kemampuan yang dimilikinya.

Tetapi lambat laun, seiring berjalannya waktu, pendapat dan pameo tentang pegawai pemerintah, makin lama makin terkikis dan menghilang. Para kaum muda hanya ingin ‘main aman’ dan tak mau berspekulasi dengan nasib. Dalam masa muda ia tak mau ‘bermain dulu’, seolah pekerjaan pegawai adalah pekerjaan terbaik untuk saat ini.

Pedagang Negeri Sipil (PNS)
Sebenarnya, dalam masa sekarang ini terlalu naïf kita mengatakan, bahwa orang muda telah meninggalkan sifat pedagangnya dan sekarang hanya berorientasi terhadap pekerjaan pegawai pemerintah. Memang hal ini ada benar, tetapi perlu di cek lagi bukankah banyak juga orang Minang setelah menjadi pegawai pemerintah juga menjadi pedagang dan sekarang menjadi istilah baru yakni Pedagang Negeri Sipil.

Hal ini tentu disebabkan karena modal untuk bertahan dalam berdagang sangat besar, terlebih dalam pengembangan usaha tentu perlu dana lebih besar. Dengan menjadi pegawai pemerintah para kaum muda Minang, bisa mendapatkan modal untuk bertahan dan berkembang di tengah persaingan yang makin berat.

Memang dalam hal ini jelas, orang Minang yang berdagang sekaligus jadi pegawai pemerintah tak akan bisa menjadi orang besar. Hal ini disebabkan karena kedua pekerjaan ini tentu meminta tumbal ‘keseriusan’ sedangkan bila satu saja yang jadi priorotas banyak juga orang yang tak sukses apalagi sekali dua pekerjaan. Sehingga dua pekerjaan tak ada satupun yang menjadi sandaran untuk hidup.

Akhirnya, dengan adanya pertemuan para saudagar Minang diharapkan bisa menjadi penerang, bagi kaum muda untuk kembali menjadi pedagang tulen bukan pedagang sekaligus pegawai. Tentu para kaum muda tak hanya memerlukan motivasi saja, juga kaum muda membutuhkan sokongan dana untuk bertahan dan mengembangkan usaha. Semoga dalam ajang ini menjadi awal indah bagi para pedagang Minang dan bisa mambangkik batang tarandam etnis Minang.

*** Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Sejarah, Unand.

One response so far

Feb 04 2008

Published by sianok under Budaya

“Braindrain” dan Stagnasi Budaya

Oleh : Rudi Hartono Gece***

 

Permasalahan atau pertentangan tentang budaya memang tak akan pernah habis hingga masyarakat yang akan memakai atau mengembangkan sudah tak ada lagi. Tetapi selama masih ada masyarakat, maka pro-kontra masalah budaya antara kaum modenis dan kaum konservatif akan selalu menjadi masalah klasik.

Kaum modernis (baca: muda) menginginkan hasil kebudayaan yang akan tercipta oleh kaum konservatif (baca: tua) bisa menjawab semua permasalahan dan tantangan masanya itu, tetapi kenyataan lain. Sehingga kaum muda ingin mencari solusi dan berusaha menciptakan budaya yang bisa menjawab masalahnya sendiri.

Tentu di satu pihak kaum tua sebagai orang yang merasa telah berpengalaman, selalu mengambil fungsi kontrol dengan apa yang diperbuat oleh kaum muda, sehingga bila ada budaya baru yang bertentangan dengan budaya lama, maka akan terjadi pembenaran dan penolakan oleh kaum tua. Sehingga, tercipta dua kubu yang bersebrangan lalu akhirnya akan menimbulkan pergesekan.

Dari banyak pengalaman, maka selalu kaum muda yang akan dan harus kalah, sehingga tak ada alternatif terbaik selain merantau. Dan di rantau ia mulai berjuang dan mencoba mengembangkan budaya baru yang baik itu.

Budaya Merantau

Istilah merantau bagi orang Minang bukan sesuatu hal yang baru lagi, ia sudah berkembang dan telah jadi budaya sejak dulunya. Walaupun, motif merantau sangat beragam dan wilayah yang menjadi tujuan yakni di daerah pesisir pantai Barat Sumatra, Riau dan Malaysia.

Paling kurang ada beberapa banyak motif dan kaum golongan kaum yang merantau, pada awalnya hanya karena motif ekonomi, hal ini terjadi jauh sebelum Belanda datang ke tanah Minang dan golongan yang pergi umumnya para saudagar. Kedua, pada saat perang padri dan golongan yang merantau umumnya kaum ulama dan yang terakhir pada saat awal kemerdekaan umumnya golongan pergi beragam dan tujuan untuk “mencari aman”.

Tetapi, bukan hal ini yang akan kita kupas di sini, karena masalah ini sudah lumrah terjadi dan selalu diperbincangkan. Lalu hal yang kita kupas yakni mengapa budaya khususnya di Minang yang tercipta selalu tak berkenan bagi kaum muda yang akan menjalankannya. Mungkin dampak “braindrain” bisa menjawab keadaan ini.

Perpindahan kaum yang berintelektual tinggi ke kota dan kedatangan kaum yang kalah dalam persaingan di kota ke nagari asal, tentu biasa terjadi dimana saja. Kepergian kaum intelektual tinggi tersebut bukan karena tak ada alasan yang jelas, tetapi secara sederhana motif kepergian yakni ingin mendapat sesuatu yang tak tersaji di daerah asal, namun bisa didapat di luar dan para perantau pergi tentu menyiapkan apapun untuk bersaing, secara tersirat orang yang pergi adalah Putra Terbaik Daerah (PTD). Tentu sebaliknya, kaum yang tak dapat bertahan dan berkembang di kota akan terpingirkan dan hanya ada satu jalan untuk bertahan yakni dengan kembali ke nagari asal.

Memang hal ini lumrah dan biasa saja terjadi, tetapi yang perlu kita curigai apa yang dilakukan oleh “orang kalah” tadi di nagari asal. Bukankah orang yang kalah saing adalah orang yang identik dengan kurang kreatif, kurang dinamis dan masih banyak lagi cirinya.

Dan bila orang kalah saing ini ‘mujur’ di nagari asal lalu menjadi pemimpin dan menciptakan kebijakan baru, lalu yang menjadi pertanyaan selanjutnya apakah orang ini bisa atau mampu menciptakan dan menjawab tantangan yang selama ini menjadi masalah di Minang.

Karena ia telah menjadi seorang pemimpin dan anggapan banyak orang, pemimpin adalah orang yang cerdik-pandai, maka dengan terpaksa ia menciptakan “budaya baru” tetapi meniru budaya yang telah sukses di zaman. Dan ia beranggapan, bahwa budaya lama adalah satu-satunya solusi dari masalah zaman ini.

Padahal, bila dilihat secara mendalam, bukankah budaya itu tinggi dan besar hanya pada masanya. Dan tentu bila dicoba dan dipaksakan, maka akan terjadi pertentangan antara kaum yang menciptakan (kaum tua) dengan kaum yang menjalankan (kaum muda) kerena tak sesuai lagi dengan zaman dan permasalahan yang terjadi sekarang.

Masa Jaya

Pada masa keemasan budaya Minangkabau kita lihat, bagaimana budaya yang ada di sedang digandrungi dan disukai. Hal ini bukan omong kosong belaka. Lihat saja kenyataan bagaimana orang Malaysia meminta guru-guru dari Minang untuk mengajarkan di sana.

Dan bukan hanya itu saja, pemerintah juga banyak mengirim pelajar untuk menuntut ilmu di Minang dan sekaligus belajar kebudayaan di sini yang mereka anggap bisa membuat semua berkembang. Tentu fakta sejarah ini membuktikan, bahwa budaya Minang sempat besar dan berjaya.

Tetapi, sekarang coba kita lihat bagaimana tingkat perbandingan antara guru (Minang) dan murid (Malaysia). Sekarang murid yang kita ajar, kini telah menjadi orang besar dan cerdas, sedang gurunya masih “jalan ditempat” sehingga sekarang orang Minang dengan kepala menunduk ke bumi harus belajar kembali dengan murid yang sempat diajar dulu. Lalu yang menjadi pertanyaan apakah ini bukan suatu kemunduran atau hanya jalan di tempat.

Tentu kenyataan ini bisa menjadi renungan, bukankah budaya itu hakekatnya bisa berubah dan bergerak sesuai dengan zaman, dan bukan hal yang stagnan (jalan di tempat). Dengan kita berani menciptakan dan berani menerima semua hal yang baik dari luar, lalu mengolah dan memadankan dengan adat nan ndak langkang jo paneh, ndak lapuak jo hujan, maka dengan bertahap akan menciptakan budaya baru yang bisa dibanggakan dan dihargai oleh orang banyak.

Tidak ariflah kita bila, menumpuk kesalahan para Putra Terbaik Daerah (PTD) yang meninggalkan daerah, lalu dianggap tak mencintai negeri asalnya. Bukti kecintaan jelas pada waktu lebaran atau hari besar, para PTD berbondong-bondong untuk pulang basamo. Tetapi hanya sebentar saja hingga berlalu dan pergi.

Seharusnya kita, dengan sedikit usaha dan trik menarik minat PTD untuk bisa tinggal di sini. Tetapi bukan dengan cara dipaksa untuk tinggal dan dilarang pergi. PTD akan dengan sendiri tak ingin meninggalkan daerahnya bila di sini ada yang mereka cari. Baik berupa pendidikan yang berbobot, lapangan kerja yang memadai, maka nagari ini takkan kehilangan Putra Terbaik dan nantinya mereka bisa menjawab permasalahan yang dihadapi nagarinya sendiri.

*** Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Sejarah, Unand.

No responses yet

Jan 23 2008

Published by sianok under Budaya

Cegah Romantisme Masa Lalu

Oleh : Rudi Hartono Gece***

 

Sudah sepuluh tahun usia bagi reformasi sejak dilahirkan dan sekarang sudah akan beranjak dewasa, sudah sepuluh tahun ia mencoba mewujudkan cita-cita yang diamanahkan kepadanya, dan sudah sepuluh tahun lamanya rakyat menunggu realisasi dari amanah itu.

Ternyata janji sewaktu ia dilahirkan belum juga nampak dan menyentuh semua element masyarakat. Akibat dari itu semua, sekarang banyak opini dari rakyat kebanyakan untuk atau menginginkan kembali masa sebelum reformasi dan mengeluhkan kenapa bayi reformasi terlahir di Indonesia ini.

Bagaimana tidak, pagi harga “begini” tetapi siang harganya “begitu”. Sekarang yang berkuasa adalah pasar sedangkan pemerintah yang diharapkan sebagai wasit untuk melihat kecurangan pasar seolah menjadi penonton di tribun umum. Bagaimana pemerintah akan memberi sangsi keras terhadap oknum nakal sedangkan keadaan di pasar masih kabur dari pandangan.

Lalu seolah reformasi dilahirkan sepuluh tahun yang lalu, cacat atau “kembaran gagal” dari pemerintahan feodal dulu. Dan ini karena bayi itu terlahir dari rahim yang menganut budaya feodal dan setelah lahir ia dibesarkan di lingkungan yang masih memakai sistem feodal. Sehingga budaya yang terlahir sepuluh tahun ini menghasilkan budaya “feodal baru” yang tambah ke depan tambah berantakan dan menyengsarakan rakyat.

Pengaruh Media

Semangat yang menginginkan kembali ke masa lalu di kala Presiden Soeharto menjabat juga kembali mencuat disebabkan tayangan media yang akhir-akhir ini. Media mengungkapkan keberhasilan, prestasi dan kehebatan dari penguasa Orde Baru. Namun, kegiatan media ini bukan tanpa alasan euforia itu dipicu dengan fluktuatifnya kesehatan mantan presiden di Rumah Sakit Umum Pusat Pertamina, Jakarta Selatan.

Tanyangan ini menimbulkan lagi keinginan untuk kembali ke masa lalu. Walaupun dengan slogan harus “satu untuk sejahtera dan untuk sejahtera harus mengorbankan semua hanya untuk satu”. Dengan tumbal menghilangkan hakekat substansi dari hak manusia.

Sekarang rakyat tak juga berbicara untuk dirinya sendiri. Bagaimana rakyat bersuara dan menyuarakan pendapat sedangkan pemikiran dan tenaga tercurah untuk menenuhi kebutuhan. Dan di seberang jalan yang merasakan dampak positif dari reformasi sekarang hanya pada segelintir elite yang bisa “bermain” dalam keadaan ini.

Jadi bila keadaan tak menentu ini terus berjalan, maka jangan salahkan rakyat yang menginginkan sistem masa lalu yang dinilai bisa menghasilkan dan menyuguhkan kebutuhan mendasar bagi rakyat, sehingga upaya yang dilakukan untuk menghancurkan dan menghilangkan budaya “menjajah dan terjajah” yang selama ini diusahakan tak diinginkan lagi.

Untuk itu, maka kita harus berusaha untuk menahan desakan dari bawah untuk meminta datangnya kembali sistem masa lalu. Dengan jalan mewujudkan kesejahteraan rakyat, dengan atau tanpa mengorbankan proses yang baik sebagai tumbal untuk menciptakan apa yang diinginkan oleh kita bersama.

*** Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Andalas, Padang.

No responses yet