“Braindrain” dan Stagnasi Budaya
Oleh : Rudi Hartono Gece***
Permasalahan atau pertentangan tentang budaya memang tak akan pernah habis hingga masyarakat yang akan memakai atau mengembangkan sudah tak ada lagi. Tetapi selama masih ada masyarakat, maka pro-kontra masalah budaya antara kaum modenis dan kaum konservatif akan selalu menjadi masalah klasik.
Kaum modernis (baca: muda) menginginkan hasil kebudayaan yang akan tercipta oleh kaum konservatif (baca: tua) bisa menjawab semua permasalahan dan tantangan masanya itu, tetapi kenyataan lain. Sehingga kaum muda ingin mencari solusi dan berusaha menciptakan budaya yang bisa menjawab masalahnya sendiri.
Tentu di satu pihak kaum tua sebagai orang yang merasa telah berpengalaman, selalu mengambil fungsi kontrol dengan apa yang diperbuat oleh kaum muda, sehingga bila ada budaya baru yang bertentangan dengan budaya lama, maka akan terjadi pembenaran dan penolakan oleh kaum tua. Sehingga, tercipta dua kubu yang bersebrangan lalu akhirnya akan menimbulkan pergesekan.
Dari banyak pengalaman, maka selalu kaum muda yang akan dan harus kalah, sehingga tak ada alternatif terbaik selain merantau. Dan di rantau ia mulai berjuang dan mencoba mengembangkan budaya baru yang baik itu.
Budaya Merantau
Istilah merantau bagi orang Minang bukan sesuatu hal yang baru lagi, ia sudah berkembang dan telah jadi budaya sejak dulunya. Walaupun, motif merantau sangat beragam dan wilayah yang menjadi tujuan yakni di daerah pesisir pantai Barat Sumatra, Riau dan Malaysia.
Paling kurang ada beberapa banyak motif dan kaum golongan kaum yang merantau, pada awalnya hanya karena motif ekonomi, hal ini terjadi jauh sebelum Belanda datang ke tanah Minang dan golongan yang pergi umumnya para saudagar. Kedua, pada saat perang padri dan golongan yang merantau umumnya kaum ulama dan yang terakhir pada saat awal kemerdekaan umumnya golongan pergi beragam dan tujuan untuk “mencari aman”.
Tetapi, bukan hal ini yang akan kita kupas di sini, karena masalah ini sudah lumrah terjadi dan selalu diperbincangkan. Lalu hal yang kita kupas yakni mengapa budaya khususnya di Minang yang tercipta selalu tak berkenan bagi kaum muda yang akan menjalankannya. Mungkin dampak “braindrain” bisa menjawab keadaan ini.
Perpindahan kaum yang berintelektual tinggi ke kota dan kedatangan kaum yang kalah dalam persaingan di kota ke nagari asal, tentu biasa terjadi dimana saja. Kepergian kaum intelektual tinggi tersebut bukan karena tak ada alasan yang jelas, tetapi secara sederhana motif kepergian yakni ingin mendapat sesuatu yang tak tersaji di daerah asal, namun bisa didapat di luar dan para perantau pergi tentu menyiapkan apapun untuk bersaing, secara tersirat orang yang pergi adalah Putra Terbaik Daerah (PTD). Tentu sebaliknya, kaum yang tak dapat bertahan dan berkembang di kota akan terpingirkan dan hanya ada satu jalan untuk bertahan yakni dengan kembali ke nagari asal.
Memang hal ini lumrah dan biasa saja terjadi, tetapi yang perlu kita curigai apa yang dilakukan oleh “orang kalah” tadi di nagari asal. Bukankah orang yang kalah saing adalah orang yang identik dengan kurang kreatif, kurang dinamis dan masih banyak lagi cirinya.
Dan bila orang kalah saing ini ‘mujur’ di nagari asal lalu menjadi pemimpin dan menciptakan kebijakan baru, lalu yang menjadi pertanyaan selanjutnya apakah orang ini bisa atau mampu menciptakan dan menjawab tantangan yang selama ini menjadi masalah di Minang.
Karena ia telah menjadi seorang pemimpin dan anggapan banyak orang, pemimpin adalah orang yang cerdik-pandai, maka dengan terpaksa ia menciptakan “budaya baru” tetapi meniru budaya yang telah sukses di zaman. Dan ia beranggapan, bahwa budaya lama adalah satu-satunya solusi dari masalah zaman ini.
Padahal, bila dilihat secara mendalam, bukankah budaya itu tinggi dan besar hanya pada masanya. Dan tentu bila dicoba dan dipaksakan, maka akan terjadi pertentangan antara kaum yang menciptakan (kaum tua) dengan kaum yang menjalankan (kaum muda) kerena tak sesuai lagi dengan zaman dan permasalahan yang terjadi sekarang.
Masa Jaya
Pada masa keemasan budaya Minangkabau kita lihat, bagaimana budaya yang ada di sedang digandrungi dan disukai. Hal ini bukan omong kosong belaka. Lihat saja kenyataan bagaimana orang Malaysia meminta guru-guru dari Minang untuk mengajarkan di sana.
Dan bukan hanya itu saja, pemerintah juga banyak mengirim pelajar untuk menuntut ilmu di Minang dan sekaligus belajar kebudayaan di sini yang mereka anggap bisa membuat semua berkembang. Tentu fakta sejarah ini membuktikan, bahwa budaya Minang sempat besar dan berjaya.
Tetapi, sekarang coba kita lihat bagaimana tingkat perbandingan antara guru (Minang) dan murid (Malaysia). Sekarang murid yang kita ajar, kini telah menjadi orang besar dan cerdas, sedang gurunya masih “jalan ditempat” sehingga sekarang orang Minang dengan kepala menunduk ke bumi harus belajar kembali dengan murid yang sempat diajar dulu. Lalu yang menjadi pertanyaan apakah ini bukan suatu kemunduran atau hanya jalan di tempat.
Tentu kenyataan ini bisa menjadi renungan, bukankah budaya itu hakekatnya bisa berubah dan bergerak sesuai dengan zaman, dan bukan hal yang stagnan (jalan di tempat). Dengan kita berani menciptakan dan berani menerima semua hal yang baik dari luar, lalu mengolah dan memadankan dengan adat nan ndak langkang jo paneh, ndak lapuak jo hujan, maka dengan bertahap akan menciptakan budaya baru yang bisa dibanggakan dan dihargai oleh orang banyak.
Tidak ariflah kita bila, menumpuk kesalahan para Putra Terbaik Daerah (PTD) yang meninggalkan daerah, lalu dianggap tak mencintai negeri asalnya. Bukti kecintaan jelas pada waktu lebaran atau hari besar, para PTD berbondong-bondong untuk pulang basamo. Tetapi hanya sebentar saja hingga berlalu dan pergi.
Seharusnya kita, dengan sedikit usaha dan trik menarik minat PTD untuk bisa tinggal di sini. Tetapi bukan dengan cara dipaksa untuk tinggal dan dilarang pergi. PTD akan dengan sendiri tak ingin meninggalkan daerahnya bila di sini ada yang mereka cari. Baik berupa pendidikan yang berbobot, lapangan kerja yang memadai, maka nagari ini takkan kehilangan Putra Terbaik dan nantinya mereka bisa menjawab permasalahan yang dihadapi nagarinya sendiri.
*** Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Sejarah, Unand.