Aug 27 2009

Merubah Karakter Budaya Bangsa

Published by sianok at 6:34 pm under Budaya




Oleh : Rudi hartono ***

Harus diakui bahwa budaya feodal masih ada di tengah-tengah kehidupan kita atau paling tidak budaya feodal yang ada pada masa Orde baru (Orba) masih melekat kuat pada bangsa ini (Fadlillah, 2006).Politik balas budi, patron-client, asal bos senang, dan masih banyak lagi masih kita ditemui secara nyata.

Sepertinya memang, sebelas tahun reformasi masih menyisakan pekerjaan rumah yang berat, karena semua masalah ini bersumber pada karakter sebuah bangsa. Jadi pekerjaan yang selayaknya diprioritaskan adalah bagaimana merubah karakter budaya bangsa.

Namun  semua itu, membutuhkan waktu yang tak sedikit. Terlebih para pemimpin di Indonesia yang diharapkan memberikan contoh bagaimana karakteristik dari bangsa atau negara yang menjunjung tinggi kebebasan dan persamaan.  terdidik dan bergelimang dalam budaya Orba masih mengadopsi budaya mau “menjajah bangsa sendiri”.

Secara psikologi memang sulit dan membutuhkan waktu untuk melepaskan budaya atau pun karakter seseorang yang dibentuk oleh bangsanya sendiri, sehingga terlalu berharap kita melihat bahwa lima atau pun sepuluh tahun ke depan kita bisa melihat hadirnya budaya yang merdeka secara nyata dan menghadirkan makna atau arti seutuhnya dari kemerdekaan.

Tentu keadaan ini menghadirkan sebuah pertanyaan sederhana apakah tidak ada harapan lagi untuk merubah karakter budaya bangsa sehingga budaya bangsa ini mampu mendorong terwujudnya kesejahteraan dan keamanan. Untuk menjawab pertanyaan sederhana ini, dibutuhkan pertama, generasi baru (pemuda/pemudi) yang menjadi actor atau agen perubahan ke arah lebih baik.

Pemuda inilah yang akan menyebarkan budaya baru yang berdasarkan pada keterbukaan dan persamaan hak bagi setiap masyarakat. Pemuda inilah yang akan mencongkel budaya yang telah berurat, berakar. Terlebih suka tidak suka, mau tidak mau pemuda adalah generasi penerus dari bangsa ini ke depan yang perlu disiapkan.

Tetapi sebelum hadirnya generasi baru, maka hal yang paling penting untuk menghadirkan generasi baru atau seperti ucapan Taufik Abdullah manusia yang telah “tercerabut dari akar budaya” feodal yakni adanya sebuah institusi yang bertujuan mencerdaskan dan mencerahkan para penerus bangsa ini.  Institusi ini berkewajiban menyadarkan para penerus bangsa bahwa dia yang akan merubah haluan negeri ini ke depan dan mampu mewujudkan cita-cita negara Indonesia.

Di institusi inilah dikembangkan bagaimana bentuk dan implementasi dari sistem demokrasi yang menjunjung tinggi suara mayotitas di atas segalanya. Di institusi inilah dibentuk sosok pemimpin kuat.  Institusi yang akan menciptakan sebuah mental budaya baru yang membangun bagi generasi penerus bahwa kreatifitas kunci dari segalanya dan berkerja keras adalah jalannya.

Akhirnya merubah karakter bangsa sebenarnya bukan hal yang baru yang disuarakan untuk mencapai atau menciptakan kesejateraan namun penulis berharap bahwa proses ini perlu dilanjutkan dan harus berkesinambungan agar tujuan mulia dari bangsa dan negara Indonesia bisa tercapai. Semoga.

*** Mahasiswa Ilmu Sejarah, Unand Padang.

No responses yet


Create a free edublog to get your own comment avatar (and more!)

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image