Jun 22 2009
Sisi lain Kasus Ambalat
Oleh : Rudi hartono G ***
Di media cetak dan elektronik banyak kita temui wacana berkembang lalu ditanggapi serius dan beragam oleh semua lapisan, tidak hanya masalah menyoal manuver politik capres, tetapi juga yang tak kalah hangat dan menyita perhatian yakni kasus masuknya kapal patroli Malaysia ke perairan Indonesia di Kalimantan Timur.
Tidak tanggung-tanggung kasus ini sebenarnya memang bukan “barang baru” bagi negeri serumpun ini. Dari kasus ini bisa diambil 2 hal yang bisa dipelajari. Pertama, makin dianggap entengnya kedaulatan Indonesia oleh negeri lain dalam kasus ini tentu Malaysia. Kedua, ada “permainan” dari elit dalam kasus ini.
Dalam hal ini penulis mencoba menjelaskan bentuk kedua yakni ada “permainan” dari elit. Memang bentuk kedua ini kurang muncul dipermukaan karena dianggap terlalu menganggap enteng masalah. Tetapi disinilah daya tariknya tulisan ini, masalah sensitif dilihat lain.
Memakai isu melanggar kedaulatan bangsa yang sarat semangat nasionalisme (paham cinta kebangsaan) memang bisa dianggap sebagai “terapi kejut” dikala ke-apatisan masyarakat terhadap nasib bangsa. Keapatisan masyarakat sudah terlihat telah lama terjadi. Lalu kenapa disebutkan permainan, ini bisa dijelaskan dari beberapa kali catatan tentang kasus ini, seperti yang dijelaskan di awal kasus ini bukan “barang baru” bagi negeri serumpun ditambah mengapa baru sekarang sangat diwadahinya oleh media (perlu diingat media juga salah satu alat politik- efektif).
Bila semua ini permainan elit apa tujuan dan manfatnya. Tentu jawabannya bisa dilihat bagaimana tingginya angka golput yakni 30 persen dalam pemilihan legislatif lalu. Angka ini jelas menggalahkan partai demokrat (SBY) sebagai pemenangnya (Kompas, mei 2009).
Tentu secara nyata kita sanggah bahwa 30 persen ini bukan semata-mata akibat keapatisan masyarakat terhadap negeri ini, namun angka besar adalah gabungan dari berbagai kasus diantaranya tercabutnya hak konstitusi masyarakat akibat masalah formal yakni tidak terdaftarnya masyarakat calon pemilih dalam DPT (Daftar Pemilih Tetap).
Sebenarnya menurut Eep Saefulloh Fatah ada tiga kantung yang akan menjadi “ladang” dan bila digarap maka akan jadi kekuatan besar untuk menang. Pertama, pemilih rasional. Memang dalam hal ini jumlah pemilih rasional tidak besar tetapi ketidakpuasan golongan ini terhadap partai pilihannya dulu bisa dilihat dan bila di-akali maka “pindah ke lain hati” bukan hal yang mustahil. Kedua, golongan yang apatis terhadap nasib negeri ini. Dan ketiga yakni golongan yang tak masuk DPT.
Bila isu ini tentang kedaulatan negeri ini dikembangkan maka, dua golongan ini akan bisa digerakan, terlebih untuk golongan kedua. Kita tahu bahwa bangsa ini mempunyai sikap nasionalisme yang tinggi dan kasus ini bisa dianggap pemicu dan bila “dikelola dengan bisa” akan mendulang hasil yang kandidat.
Memang kalau golongan apatis ini jelas tidak perduli kepada nasib bangsa ini tetapi kalaulah masalah ini sudah menyinggung sikap cinta tanah air apalagi “musuh” jelas bukan bangsa sendiri, maka ceritanya kan lain.
Dan para tim sukses dan kandidat akan menanggapi masalah ini, dengan ungkapan seolah-olah “kalau begini terus mau jadi apa bangsa ini ke depan,” “muka negeri mau diletakkan ke mana,” maka kita perlu perubahan kepemimpinan karena masalah ini akibat salah asuh atau sebagainya tergantung pasangan atau tim suskses mana.
Bila melihat seolah dengan ungkapan “kaca mata kuda”maka pelecehan negeri ini adalah satu-satunya penyebab kejadian ini, padahal tidak juga. Dan dengan demikian bisa saja, isu perbatasan yang sarat nasionalisme ini bisa dikelola menjadi isu politik guna kenaikan tingkat keterpilihannya.
Lalu kita masyarakat bila ada isu serupa akan terjadi ke depan mampu melihatnya lebih komprehensif (menyeluruh). Dan semoga tidak terjadi apa-apa dan masalah ini bisa diselesaikan dengan jalan damai.
*** Mahasiswa Ilmu Sejarah, Unand.
Create a free edublog to get your own comment avatar (and more!)