Apr 08 2008
Budaya Mandul, Mandul Budaya
Oleh : Rudi Hartono Gece ***
Syarat mutlak yang harus dimiliki untuk menjadi bangsa yang cerdas yakni terciptanya rasa kemerdekaan dari segala sisi, namun bila perasaan atau mental terjajah ada dan masih “dibangga-banggakan” maka tak akan tercipta kecerdasan di daerah atau di wilayah itu.
Begitupun masalah budaya, untuk berkembang budaya dan kebudayaan seharusnya merdeka tanpa intervensi apapun. Ia akan melahirkan manusia yang berbudaya dan juga mengembangkan budaya cerdas untuk menjawab tantangan masa depan.
Namun ini tak terjadi di Indonesia. Paling tidak pada masa Orde Baru (Orba). Dulu budaya tak berkembang karena dijajah bangsa asing, namun sekarang ia dijajah orang sendiri (Walaupun banyak orang yang coba menafikan kenyataan ini dengan berbagai bantahan kuat). Budaya yang dikembangkan dulu mempunyai ruh stratafikasi dan mengindahkan nilai-nilai kemanusiaan.
Tak ada sikap menentang, semua harus seragam, dari Sabang sampai Merauke. Dengan penyeragaman kita mudah untuk menerapkan kebijakan. Dan mudah dalam pengontrolan.
Hal ini tidak ada salahnya, namun jelas ini terbentur dengan sejarah bangsa Indonesia dan seolah bertentangan dengan ungkapan yang sering didengung-dengungkan “kita berbeda namun tetap satu”. Dalam ungkapan ini terkandung pemahaman bahwa kita tak satu etnis saja berbaga etnis yang mempunyai kekhasan dan keunikan masing-masing.
Sehingga bila dilakukan penyeragaman, maka kekhasan dan keunikan yang dari dulu kita bangga-banggakan ternodai. Atau kata yang lebih ektrim yakni pemusnahan etnis karena tak ada lagi manusia yang mengembangkan dan memakai budaya yang seharusnya ia pakai.
Dan jelas tak akan bermanfaat banyak karena masalah beragam tapi rumus pemecahan hanya satu. Dan menimbulkan masalah baru yang tak kunjung usai hingga sekarang. Terjadi tumpang tindih antara “titah” di atas dengan penerapan di bawah menghadapi keadaan yang ada.
Budaya Mandul
Karena keadaan yang tak kunjung selesai jelas mengisyaratkan ada sesuatu dan malahan semuanya sedang sakit. Tak ada titik temu dalam masalah yang dihadapi bangsa, mulai dari naiknya harga sembako, kurangnya perlindungan terhadap konsumen dan masih banyak lagi.
Sampai – sampai kita tak merasakan adanya kontrol dari pemerintah tentang keadaan ini, pemerintah yang diharapkan jadi “wasit” untuk melihat dan menjatuhkan hukuman dari setiap pemain yang pura-pura atau sengaja bersikap tak wajar namun, pada kenyataannya pemerintah hanya di posisi penonton yang duduk di tribun umum dan jauh dari aktifitas semuanya. Sehingga fungsi pemerintah tak terlihat sehingga oknum mudah mencari celah untuk kepentingan pribadi.
Sehingga untuk merubah keadaan tersebut butuh waktu karena kebanyakan orang sudah mulai terbiasa dan menganggap itu hal yang baik. “Ya biarlah namanya juga Indonesia, kita harus maklum”. Rakyat sudah banyak “bijaksana”, padahal apa yang dikendakinya belum padahal itu adalah kewajiban negara walaupun tak ada kelihatan jalan untuk mencapai tujuan kesejahteraan sosial tersebut.
Budaya yang tercipta bukan produk dari rezim yang berkuasa tetapi tercipta dari proses ke dalam tubuh masyarakat yang mengembangkan dan diterima lalu menjadi karakter, prilaku dan sikap hidup. Budaya yang cerdas bukan berlandaskan pada warna kulit, bentuk fisik dan lain-lain. (Fadlilah : 2006)
Biarkanlah budaya menjadi dan tetap berproses ke dalam dan mampu menciptakan alternatif baru yang bisa menjawab masalah, bukan menjadi menara agung yang dianggap tinggi dan tak bisa untuk diganggu gugat kembali dan hanya untuk kebanggaan semu.
*** Penulis adalah mahasiswa Ilmu Sejarah, Unand.