Mar 04 2008
Pertanyaan Nasionalisme
Oleh : Rudi Hartono G***
Negara adalah suatu kesatuan yang diperoleh dari kesamaan historis, latar belakang yang sama, dan kesamaan dalam cita-cita (Renan)
Mengkaji masalah nasionalisme (paham cinta tanah air) diberbagai negara sesungguhnya hal yang menyasikkan dan menghentakkan. Bagaimana hasil baik, maka itu berita baik, tetapi ternyata hasil kurang baik tentu menakutkan. Bukan hanya menentukan cinta seorang kepada negaranya namun yang lebih penting yakni apakah negara tersebut berhasil atau tidak dalam mencapai cita-citanya.
Dan bila panah tersebut diarahkan kepada Indonesia tentu perlu dijabarkan indikator sebelum menyimpulkan keadaan tersebut. Dan salah satu indikatornya yakni tergantung bagaimana tingkat kesejahteraan masyarakat.
Bila ditarik ke bawah tentang nasionalisme pada negara berkembang seperti Indonesia tentu mengalami pasang surut pasang-naik. Ia bisa “naik” sewaktu negara bisa dibanggakan dan sebaliknya bila bisa dibanggakan (dalam berbagai hal), maka tentu akan turun, dan kalau itu berlangsung lama, maka itu gawat dan penguasa harus belajar mendengar (Solo, Widji Toekul)
Namun sekarang masalah cita-cita yang tertuang dalam undang-undang jauh panggang dari api. Rakyat jauh dari makna sejahtera. Sehingga, di dalam masyarakat terjangkit “virus” yang berakibat denasionalisme. Orang bisa saja menjual cagar budaya dan barang yang bernilai historis yang menjelaskan jati diri bangsa, namun seenaknya menjual kepada asing karena rasa tersebut telah hilang. Dan hilangnya tersebut tentu tidak dengan cara sihir namun keadaan ini menjelaskan suatu proses yang panjang dari kegagalan demi kegagalan bangsa ini.
Sekarang kata nasionalisme dijadikan sebuah kata benda yang disakralkan dan dirayakan dengan acara tipis makna. Sebenarnya kata nasionalisme harus diletakkan menjadi kata kerja, sehingga bila diletakkan dalam kata kerja ia akan terus berproses ke arah yang lebih dan makin baik.
Namun yang dicurigai yakni adalah nasionalisme dari orang bawah (orang kebanyakan). tentu ungkapan “jangan pikirkan apa yang diberikan pada negara kepada kita tetapi, apa yang diberikan kita pada negara” tentu masuk telingga kiri keluar ke telinga kiri (tak mempan). Orang kebanyakan menginginkan kebalikan dari jargon di atas.
Terlebih orang kebanyakan tak mempunyai elite yang bisa dibanggakan dan menjadi sosok yang bisa menjadi panutan, kerena elite vokal di saat ia tak menjabat, namun setelah menjabat ia seolah mengikuti budaya yang ada dan berkembang. Dan itu terjadi di pusat dan di daerah.
Ditambah gencarnya permintaan dan hasutan dari luar dengan iming-iming materi yang melimpah didukung oleh pengawasan yang longgar di Indonesia sehingga niat yang ada semakin kokoh berdiri karena kesempatan yang berbuka lebar.
Usaha Pemerintah
Masih ingatkah kita sebuah iklan Pertamina (Perusahaan Tambang Milik Negara) yang berbunyi “kita untung bangsa untung”. Tentu dengan ungkapan slogan ini tentu tersirat suatu himbauan yang mengandung nasionalisme, bahwa bila mengunakan produk dalam negeri, maka negara dan rakyat mendapatkan untung dua kali.
Tentu bila diarahkan kepada isu nasionalisme ini, terlihat atau sudah dideteksi oleh perusahaan milik negara, bahwa rakyat sudah tak mencintai atau menurunkan kecintaan pada negara ini. Sehingga, dengan iklan ini diharapkan semoga nasionalisme rakyat kembali.
Negara juga tidak mau lepas tangan dengan keadaan ini. beberapa tahun yang lalu kita ingat dan rasakan bagaimana di media nasional membicarakan bagaimana peta perbandingan kekuatan kita dengan negara tetangga yakni Malaysia . Dalam kasus tersebut disebutkan bahwa pihak Malaysia dianggap telah melanggar daerah kedaulatan NKRI, sehingga rakyat dan segenap warga negara meneriakan “ganyang Malaysia ” (ungkapan yang pertama dipolulerkan oleh Soekarno).
Dalam kasus ini dan bila dikaitkan dengan isu melemahnya nasionalisme orang kebanyakan tentu cocok. Dan dengan ini didukung oleh gencar berita di media, maka bisa mengakibatkan nasionalisme yang sempat tertidur pulas atau tergadaikan kembali terbangun atau ditebus.
Dengan dua kasus ini saja terlihat bahwa nasionalisme sudah rapuh dan menjadi mitos. Dan pemerintah dan perusahaan milik negara sudah menditeksi ini. Namun, kalau hanya dengan slogan dan insiden itu ke itu saja, yang menjadi “generator” pengerak nasionalisme, maka jelas ini bersifat pendek. Naik, di saat isu berkembang dan riuh rendah bila isu itu tak hangat.
Sehingga untuk menjawab itu semua diperlukan perubahan dari segala element. Pertama mulai dari elite harus bisa menjadi figur yang menjadi panutan dan menghentikan budaya koruptif yang menjadi ukuran apakah ia cinta pada tanah air ini. Kedua, rakyat kebanyakan harus melihat secara objektif (apa adanya) bahwa sekarang sudah terlihat kemajuan walaupun geraknya samar namun pasti. Dan pemerintah harus menciptakan kebijakan yang berorientasi kepada keinginan dan kebutuhan rakyat. Dan keempat, media cetak jangan atau coba bersikap lebih netral dalam memberikan suatu berita sehingga, bisa diterima secara apa adanya di masyarakat tanpa pengaruh subjektifitas.
Setelah ini berjalan dengan baik, maka nasionalisme dari semua element bangsa ini tubuh dan berbuah manis. Dan inilah yang kita harapkan semua. Semoga.
*** Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Sejarah Indonesia, Universitas Andalas.