Feb 04 2008
Pedagang Negeri Sipil
Oleh : Rudi Hartono G***
Dalam minggu ini, banyak orang Minang yang membicarakan tentang kedatangan para saudagar Minangkabau yang telah berhasil. Dan karena telah berhasil menjadi pedagang sukses, sekarang para pedagang tersebut datang dan bersilahturrahmi di Padang.
Tentu dengan kedatangan para saudagar yang telah berhasil ini menimbulkan berbagai pertanyaan yakni apa tujuan kedatangan orang besar ini, atau malah hanya silahturrahmi biasa, tanpa tidak lanjut bagi orang banyak. Atau ini suatu pertemuan yang akan membahas nasib orang Minangkabau kebanyakan yang sekarang bisa dikatakan hanya sebagai saudagar kaki lima, di persimpangan jalan yang selalu terkena razia ‘penertiban’. Atau akan memberikan bantuan perupa moril dan materil terhadap pedagang yang berjiwa keras, tetapi kurang dana dalam bertahan dan pengembangan usaha.
Dalam hal ini tentu yang ditunggu oleh masyarakat banyak bukan hanya masalah para saudagar bertemu sesama di tanah kelahiran dan menceritakan keberhasilannya di negeri orang dan akhir pulang meninggalkan macet di mana-mana.
Tetapi bagaimana setelah acara ini ada imbas yang nyata dan terasa yang dapat dirasakan orang Minang kebanyakan dari kedatangan orang sukses yakni para saudagar Minang.
Latar Belakang Kedatangan
Tentu dalam kedatangan para saudagar tersebut, ada latar belakang yang sangat kuat sehingga para saudagar besar mau dan bersedia, meluangkan waktu dua hari untuk datang ke Padang.
Dalam hal ini dapat kita prediksi alasan apa yang melatarberlakangi kedatangan para saudagar tersebut. Pertama, salah satu kebiasaan dari masyarakat Minangkabau khususnya dalam masa hari raya, bagi orang yang telah lama, merantau untuk datang ke kampung untuk bertemu kerabat dekat yang telah ditinggalkan dulunya. Dan tradisi ini telah melekat erat bagi orang Minang sampai sekarang.
Kedua, ada rasa prihatin dengan orang kampungnya sendiri yang sekarang tak terdengar lagi, baik dalam perpolitikan nasional dan perdagangan nasional. Padahal, pada dahulunya, orang Minang adalah salah satu etnis yang selalu bersaing untuk maju ke kursi pimpinan nasional dengan etnis Jawa. Dan salah satu etnis yang mempunyai jiwa pegadang yang kuat sejak dulu, selain etnis Tionghua.
Ketiga, memberikan semangat lagi kepada generasi muda, untuk jangan takut dalam perdagang, karena pedaganglah salah satu usaha untuk menjadi sukses dan kegiatan yang dianjurkan nabi Muhammad dan sekaligus nabi mencontohkan sendiri.
Dalam tiga alasan ini, ada perlunya kita pecah satu persatu, pertama alasan yang menjelaskan, bahwa pertemuan ini yakni ajang silahturrahmi. Tentu pernyataan ini ada benarnya, karena sekarang masih semarak hari raya tentu para pedagang ingin berkumpul dan bersuka-ria dengan keluarga yang telah lama tak bertemu. Tetapi yang perlu dicurigai adalah mengapa baru sekarang ada hal semacam ini, mengapa tahun kemarin tidak ada hal serupa. Pasti adalah yang lebih besar yang mendasarinya.
Kedua yakni adanya rasa ‘keibaan’ dari para pedagang yang sukses sekarang, pada anak kemenakan dan dunsanaknya di kampung. Mengapa sekarang tak ada lagi timbul para pedagang muda untuk mengantikan mereka kelak. Seolah jiwa pedagang telah hilang ditelan masa dan sekarang para kaum muda hanya berorientasi sebagai Pegawai Negeri saja (sebut PNS).
Ketiga, memberikan motivasi bagi kaum muda untuk menjadi pedagang seperti dirinya. Hal ini bersangkut dengan alasan kedua karena tak ada lagi kaum muda Minang yang menjadi pedagang sukses dan alasan memberi semangat pada yang muda karena kaum muda adalah kaum yang berani dan mempunyai nilai juang yang tinggi dan menjadi penerus.
Masa Doelo
Masih ada pemeo yang masih teringat tentang pendapat masyarakat Minangkabau tentang Pewagai Negeri yakni “umua panjang sadangkan gaji ba-agak-an”. Dari pemeo ini terlihat bagaimana, pandangan umum orang Minang dengan status pegawai pemerintah dulunya. Orang Minang, tak mau terikat dan tak mau menjadi anak samang selalu. Dalam hal ini pun juga ada satu istilah yang berkembang pasa masanya yakni ‘apakah kita ingin selalu jadi semut yang selalu terinjak gajah atau sebaliknya kita mengadu nasib dan berjuang keras untuk menjadi gajah’.
Tabiat orang Minang yang selalu ingin di atas ini tentu tak bisa terbendung dengan imbalan dan status pekerjaan pegawai pemerintahan, sehingga pekerjaan yang telah lama dijalani para leluhur orang Minang yakni perdagang, masih menjadi solusi terbaik.
Pada masa tersebut, anak orang Minang yang menjadi pegawai bisa dihitung dengan jari. Bahkan, pada masanya orang yang menjadi pegawai dianggap orang yang kurang kreatif dan lemah tak memiliki kepercayaan diri terhadap kemampuan yang dimilikinya.
Tetapi lambat laun, seiring berjalannya waktu, pendapat dan pameo tentang pegawai pemerintah, makin lama makin terkikis dan menghilang. Para kaum muda hanya ingin ‘main aman’ dan tak mau berspekulasi dengan nasib. Dalam masa muda ia tak mau ‘bermain dulu’, seolah pekerjaan pegawai adalah pekerjaan terbaik untuk saat ini.
Pedagang Negeri Sipil (PNS)
Sebenarnya, dalam masa sekarang ini terlalu naïf kita mengatakan, bahwa orang muda telah meninggalkan sifat pedagangnya dan sekarang hanya berorientasi terhadap pekerjaan pegawai pemerintah. Memang hal ini ada benar, tetapi perlu di cek lagi bukankah banyak juga orang Minang setelah menjadi pegawai pemerintah juga menjadi pedagang dan sekarang menjadi istilah baru yakni Pedagang Negeri Sipil.
Hal ini tentu disebabkan karena modal untuk bertahan dalam berdagang sangat besar, terlebih dalam pengembangan usaha tentu perlu dana lebih besar. Dengan menjadi pegawai pemerintah para kaum muda Minang, bisa mendapatkan modal untuk bertahan dan berkembang di tengah persaingan yang makin berat.
Memang dalam hal ini jelas, orang Minang yang berdagang sekaligus jadi pegawai pemerintah tak akan bisa menjadi orang besar. Hal ini disebabkan karena kedua pekerjaan ini tentu meminta tumbal ‘keseriusan’ sedangkan bila satu saja yang jadi priorotas banyak juga orang yang tak sukses apalagi sekali dua pekerjaan. Sehingga dua pekerjaan tak ada satupun yang menjadi sandaran untuk hidup.
Akhirnya, dengan adanya pertemuan para saudagar Minang diharapkan bisa menjadi penerang, bagi kaum muda untuk kembali menjadi pedagang tulen bukan pedagang sekaligus pegawai. Tentu para kaum muda tak hanya memerlukan motivasi saja, juga kaum muda membutuhkan sokongan dana untuk bertahan dan mengembangkan usaha. Semoga dalam ajang ini menjadi awal indah bagi para pedagang Minang dan bisa mambangkik batang tarandam etnis Minang.
*** Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Sejarah, Unand.