Jan 23 2008
Cegah Romantisme Masa Lalu
Oleh : Rudi Hartono Gece***
Sudah sepuluh tahun usia bagi reformasi sejak dilahirkan dan sekarang sudah akan beranjak dewasa, sudah sepuluh tahun ia mencoba mewujudkan cita-cita yang diamanahkan kepadanya, dan sudah sepuluh tahun lamanya rakyat menunggu realisasi dari amanah itu.
Ternyata janji sewaktu ia dilahirkan belum juga nampak dan menyentuh semua element masyarakat. Akibat dari itu semua, sekarang banyak opini dari rakyat kebanyakan untuk atau menginginkan kembali masa sebelum reformasi dan mengeluhkan kenapa bayi reformasi terlahir di Indonesia ini.
Bagaimana tidak, pagi harga “begini” tetapi siang harganya “begitu”. Sekarang yang berkuasa adalah pasar sedangkan pemerintah yang diharapkan sebagai wasit untuk melihat kecurangan pasar seolah menjadi penonton di tribun umum. Bagaimana pemerintah akan memberi sangsi keras terhadap oknum nakal sedangkan keadaan di pasar masih kabur dari pandangan.
Lalu seolah reformasi dilahirkan sepuluh tahun yang lalu, cacat atau “kembaran gagal” dari pemerintahan feodal dulu. Dan ini karena bayi itu terlahir dari rahim yang menganut budaya feodal dan setelah lahir ia dibesarkan di lingkungan yang masih memakai sistem feodal. Sehingga budaya yang terlahir sepuluh tahun ini menghasilkan budaya “feodal baru” yang tambah ke depan tambah berantakan dan menyengsarakan rakyat.
Pengaruh Media
Semangat yang menginginkan kembali ke masa lalu di kala Presiden Soeharto menjabat juga kembali mencuat disebabkan tayangan media yang akhir-akhir ini. Media mengungkapkan keberhasilan, prestasi dan kehebatan dari penguasa Orde Baru. Namun, kegiatan media ini bukan tanpa alasan euforia itu dipicu dengan fluktuatifnya kesehatan mantan presiden di Rumah Sakit Umum Pusat Pertamina, Jakarta Selatan.
Tanyangan ini menimbulkan lagi keinginan untuk kembali ke masa lalu. Walaupun dengan slogan harus “satu untuk sejahtera dan untuk sejahtera harus mengorbankan semua hanya untuk satu”. Dengan tumbal menghilangkan hakekat substansi dari hak manusia.
Sekarang rakyat tak juga berbicara untuk dirinya sendiri. Bagaimana rakyat bersuara dan menyuarakan pendapat sedangkan pemikiran dan tenaga tercurah untuk menenuhi kebutuhan. Dan di seberang jalan yang merasakan dampak positif dari reformasi sekarang hanya pada segelintir elite yang bisa “bermain” dalam keadaan ini.
Jadi bila keadaan tak menentu ini terus berjalan, maka jangan salahkan rakyat yang menginginkan sistem masa lalu yang dinilai bisa menghasilkan dan menyuguhkan kebutuhan mendasar bagi rakyat, sehingga upaya yang dilakukan untuk menghancurkan dan menghilangkan budaya “menjajah dan terjajah” yang selama ini diusahakan tak diinginkan lagi.
Untuk itu, maka kita harus berusaha untuk menahan desakan dari bawah untuk meminta datangnya kembali sistem masa lalu. Dengan jalan mewujudkan kesejahteraan rakyat, dengan atau tanpa mengorbankan proses yang baik sebagai tumbal untuk menciptakan apa yang diinginkan oleh kita bersama.
*** Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Andalas, Padang.