Oleh : Rudi Hartono ***
Isu tentang Capres dan Cawapres, sekarang sudah mampu menutupi isu hangat seperti masalah krisis global dan flu babi di Indonesia ini, sehingga media menempatkan isu ini di awal cerita. Alhasil media cetak dan elektronik sangat banyak menyediakan “lahan” untuk membahas peta perpolitikan ke depan. Diantara isu yang diangkat seperti membahas tentang berapa pasang konstentan yang ingin berebut kursi panas namun basah ini, siapa yang akan mendampingi siapa dan terakhir analisis tentang kontestan mana yang akan menjadi pemimpin tertinggi di negeri Indonesia ini 5 tahun mendatang.
Elite-elite negara ini mulai sibuk melakukan komunikasi politik (tawar-menawar keuntungan) ke partai yang bisa atau sejalan dengan garis kebijakan, disitulah letak “resiko demokrasi” di mana semua serba dirahasiakan, tertutup dan hanya 4 mata untuk menentukan semuanya. Namun keluarannya seolah ingin menjadikan rakyat sejahtera tidak kurang terhitung 2 bulan lagi.
Namun pada kesempatan terbatas ini penulis mencoba menyajikan, analisis tentang beberapa nama yang dianggap akan berkopetensi dalam perebutan kursi RI 1 dan 2 lewat 4 pasang calon walaupun kemungkinan agak kecil dan tipis.
Untuk menganalisis kekuatan pasangan ini, maka dibutuhkan dua cara yakni kekuatan pasangan dan kekuatan lawan.
- M. Jusuf Kalla dan (Purn) Wiranto
Pasangan inilah yang pertama kalinya mendeklarasikan dirinya sebagai kontestan dalam mengikuti pesta rakyat ini. Kontestan mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya yang melatarbelakangi bersatunya, kedua elit yang pernah bertarung lebih kurang 5 tahun lalu.
Pemimpin yang dibutuhkan dari negeri ini adalah pemmpin yang mengerti masalah, tahu solusi dan mampu mengeksekusi cepat, ungkap Wiranto (Metro TV). Dengan pernyataan ini sebenarnya, secara tidak langsung ia menjelaskan bahwa pemimpin dahulu (SBY+JK) kurang mengerti masalah, tak mampu menjalankan solusi dan tak cepat mengambil keputusan (tegas). Lalu apakah ini bukan boomerang bagi pasangan ini.
Namun dibalik semua itu kelemahan dari pasangan ini tentu ada, yang sedikit memerhatikan bahwa pasangan ini baru intensif melakukan hubungan setelah lamaran Golkar yang mengusung JK ditolak Domokrat (SBY). Sehingga bila pasangan ini terpilih akan seperti SBY-JK di awal pemerintahan yakni ada saling kecurigaan satu sama lain (tidak akur). Tetapi kelemahan serupa tidak bisa dihindari oleh kontestan lainnya, sehingga melahirkan pasangan premature.
Ditambah JK adalah seorang yang menganut paham Neo –Liberalisme sebagai indikatornya masalah privatisasi. Privatisasi adalah cara terbaik untuk berkembang (paling tidak dilihat dalam argumennya yang membela penjualan asset GI, dan Krakatau Stell) sehingga di mata masyarakat yang melek politik dan kritis Kalla sosok yang menginginkan pemerintah hanya sebagai “wasit”. Sedangkan Wiranto secara garis besar sering dihancurkan oleh isu pelanggran HAM berat di Tim-Tim.
Telepas dari plus-minusnya pasangan ini, diperlukan konsep kampanye yang jelas, dan berbeda dari yang lain sehingga menyentuh kebutuhan rakyat yang tak ngoyo. Alhasil bisa mendongkrak keterpilahannya. Dan ini tak terkecuali hanya untuk pasangan ini saja.
2. SBY – Manusia X
Inilah puncak dari argument bahwa SBY orang tak tegas (ragu-ragu) karena sampai hari ini belum ada nama yang akan diambil sebagai pendampingnya sebagai calon kontestan. Padahal menurut survey LSI bahwa SBY merupakan tokoh yang paling tinggi tingkat keterpilihannya melebihi elite-elite lain, sehingga siapa pun pendampingnya kelak, tidak akan mengurangi ketenarannya.
Disisi lain, terlihat disini, bahwa SBY mempunyai pandangan maju dan luas, bahwa ia tidak menginginkan “blunder” kedua kalinya karena belajar pengalaman terdahulu memilih JK yang disebut Ahmad Syafii Maarif adalah “the real President” (menghina diakhir kepemimpinannya, bahwa ia mampu lebih cepat, lebih baik) alhasil ia menciptakan JK menjadi lawan besar dan berarti.
Alhasil sekarang SBY mencari pendamping yang tak seperti istilah “membesarkan anak macan” lalu setelah itu menggigit. Namun disinilah dilemanya. Bila memilih 3 calon (yang digembar-gembor media) yang diajukan PKS maka hal di atas kemungkinan besar terjadi. Karena menurut Data PKS satu-satunya partai yang mengalami kenaikan, di pemilihan legistatif ini kecuali Demokrat. Sehingga bila memilih diantara 3 calon PKS maka 2014 calon PKS akan menjadi batu sandungan untuk regenerasi SBY di Demokrat. Disamping tiga tokoh ini tidak membuat kepemimpinan SBY kalau nantinya berlanjut tak bewarna.
Terakhir calon Cawapres PAN dan PKB nantinya, maka akan membuat kecemburuan dari PKS yang nilai tawarnya lebih tinggi, ditambah calon PAN Hatta Rajasa tingkat keterpilihan kurang, dan tak dikenal public. Walaupun ia adalah ketua Alumni ITB dan termasuk elite di ICMI. Disamping itu calon PKB yakni Muhaimin dari awal sudah memperlihatkan keinginannya melanjutkan koalisi dengan Domokrat dan menjadi pendamping SBY, namun Muhaimin sosok pemimpin yang kharismatik ini terlihat bahwa Fatwa Gus dur terhadap pemilih di Jatim tentang PKB Muhaimin tak didengarkan sehingga, Muhaimin sosok yang ditakutkan oleh SBY bila mendampinginya.
Idealnya SBY memilih calon yang mengerti dan paham tentang masalah yang sudah beradadi tengah-tengah negeri ini yakni masalah krisis ekonomi global, tetapi partai sahabat Demokrat tidak mencalonkan elite yang peham tentang masalah ini.
3. Megawati – Manusia Y
Megawati sampai sekarang masih mencoba menarik dan mencari elite lain yang bisa mendongkrak popularitasnya. Prabowo Subianto (PS) adalah salah satu tokoh yang santer terdengar, namun partai Gerindra mengisyaratkan bahwa PS adalah sosok yang mempunyai modal social, financial yang cukup tinggi sehingga akan kehilangan momentum bila tak menjadi Capres. Terlepas dari semua itu pasangan sipil dan eks militer jelas menjanjikan.
Ataukah Hamengku Buwono X (HB X) adalah tokoh yang mau menurunkan menjadi Cawapres dengan resiko ia dianggap tidak konsisten dengan deklarasi sebagai Capres. Bila HB X turun seperti realitas politik yang menimpa Wiranto, maka ini adalah pasangan yang jelas ditakutkan SBY melebihi JK-Wiranto.
Inilah dilema dari Mega bila mundur sebagai Cawapres jelas tidak mungkin tetapi elite yang seperti PS tidak ditemukan. Mega adalah tokoh fenomenal pada tahun 1999 tetapi nama besar bapaknya tak mampu menyelamatkannya lagi. Sekarang pemilih telah kritis, pemilih aktif dan bisa mengingat kesalahan stategis yang pernah dilakukan oleh Megawati sewaktu menjadi orang RI 1 dulu.
Dibalik semua itu ada baiknya Mega mencari sosok lain ditubuh partainya bila tidak ingin pemilih partainya pada pemilihan legislatif tak lari ke partai lain karena sosok Mega sudah tak fenomenal lain, walaupun kemungkinan itu kecil, tetapi paling tidak survey-survey LSI, LP3IS mengatakan bahwa Mega adalah sosok yang mempunyai tingkat keterpilahan yang mampu menyaingi SBY.
4. Prabowo Subianto – Manusia Z
Seperti yang dijelaskan diawal bahwa PS mempunyai modal social, financial yang jelas diperhitungkan sehingga untuk membuat ia makin terkenal, tentu bukan hal yang sulit. Ditambah kaum petani dan nelayan adalah golongan massa loyal PS.
Mengenai pasangan PS tentu yang paling santer terdengar yakni Sutrisno Bachir (SB). Pasangan yang mempunyai kesamaan yakni seoarang pengusaha sukses, terbukti pada awalnya SB mulai dikenal masyarakat lewat iklannya yang fernomenal.
Tetapi pertanyaan berikutnya apakah PAN mau menerima bahwa partainya yang besar harus mengalah dengan partai yang memeliki hanya 4 persen suara di parlemen (Perhitungan KPU, sementara). Di samping melawan pada sosok Amien Rais yang dianggap sebagai pahlawan reformasi dan sosok pendiri partai atau istilah Tamrin (2005) Amien adalah “muazin dari reformasi”.
Sedikit tentang wacana menarik, apa yang disampaikan Eep Saifollah perlu direnungkan sebenarnya yang perlu diluruskan dan sering tidak kelihatan bahwa SBY adalah sosok yang pasti menang, dan pasti menang sebelum pemilihan karena dikuatkan oleh survey-survey ada ada. Sehingga partai yang berseberangan sudah dihakimi akan menjadi oposisi. Tetapi coba pikirkan bahwa apakah SBY sosok yang begitu fenomenal, sehingga tidak ada sosok lain yang mampu menyaingi atau lawan SBY yang tidak sepadan (sekelas) dengannya, sehingga ia menang mudah.
Terlepas dari semua tokoh ini, sebenarnya reformasi adalah satu sistim yang perlu diingat, sebagai sistim yang banyak risiko, yang paling riskan karena pasangan, ataupun kontestan yang maju semuanya sangat instan dan sesuatu yang instan jelas nantinya, ke depannya tidaklah baik apalagi ini meyangkut nasib 230 juta penduduk Indonesia.
Sehingga garis kebijakan dari partai yang berkualisi dibangunan dengan SKS (Sistim Kebut Semalam) sehingga jelas garis kebijakan kabur dan tak menyentuh kebutuhan mendesak dari rakyat. Namun lewat jargon politik seolah ke depan akan lebih baik, lebih cepat dan mampu melahirkan perubahan tetapi perubahan yang mana lebih cepat meroket ke dasar, atau perubahan yang lebih buruk. Maka dibutuhkanlah pemilih aktif yang bisa menganalisis mana sosok yang lebih baik diantara yang ada. Di samping kaum intelektual jangan hanya berpangku tangan menunggu sosialisasi KPU masih banyak “pekerjaan rumah” pasca pemilu legislatif.
Terakhir ada baiknya ke depan ada pasangan independen bukan dari partai politik, sehingga kampanye menyentuh, berbeda dan bisa menghadirkan harapan kita semua. Tetapi ini semua masih tersandung masalah legalitas.
*** Mahasiswa ilmu Sejarah.